NADIKABAR.COM — Lonjakan kasus obesitas pada anak tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan masa depan mereka. Hal tersebut dialami Intan Permatasari, remaja asal Bogor, Jawa Barat, yang harus berhenti sekolah saat berusia 12 tahun setelah mengalami depresi berat akibat perundungan berkepanjangan karena persoalan berat badan.

Masalah berat badan yang dialami Intan bahkan sudah muncul sejak usia 4 tahun. Saat itu, ia kesulitan memakai seragam sekolah dengan ukuran standar. Kondisi tersebut membuat sang ibu, Siti Rukoyah, harus membuatkan pakaian khusus dengan menjahitnya sendiri di rumah.

"Nggak ada yang mau berteman dengan saya. Teman-teman sekelas mencubit tangan saya, mencuri uang saya, dan melempar buku ke arah saya," ungkap Intan kepada Reuters, mengenang pengalaman perundungan yang dialaminya hingga membuatnya lebih memilih mengurung diri di rumah.

Pengalaman Intan menjadi gambaran dari persoalan obesitas anak yang kini semakin meluas di negara-negara berkembang. Sebuah riset global yang melibatkan lebih dari 1.000 ilmuwan dan mendapat dukungan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta diterbitkan di jurnal Nature menunjukkan bahwa pusat peningkatan kasus obesitas pada anak mulai bergeser ke negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.