NADIKABAR.COM — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan induk unggul ikan nila untuk memenuhi kebutuhan pembenih dan pembudidaya, guna mendukung aktivitas budi daya komoditas perikanan tersebut, termasuk di Cirebon, Jawa Barat.
Direktur Ikan Air Payau Direktorat Jenderal Perikanan Budi daya KKP Fernando Jongguran Simanjuntak mengatakan pengembangan induk unggul dilakukan melalui 15 unit pelaksana teknis yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
"Ditjen Perikanan Budi daya melalui unit pelaksana teknis yang ada tersebar di Indonesia ada 15, ini masih terus mengembangkan induk unggul, salah satunya juga tilapia," kata Fernando, usai menghadiri forum Arus Nila 2026 di Cirebon, Rabu.
Ia mengatakan induk unggul hasil pengembangan tersebut dapat diakses pembenih maupun pembudidaya, yang bergerak dalam penyediaan benih ikan nila.
Menurut Fernando, ketersediaan induk unggul menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan budi daya nila karena kualitas benih turut menentukan hasil produksi.
Selain benih, kata dia, efisiensi budi daya juga ditentukan teknologi, penggunaan pakan dan tata kelola pemeliharaan yang diterapkan pembudidaya sejak awal.
"Ini memang harus sinergi, terintegrasi dalam rangka perangkat budidaya yang baik, best aquaculture practices, sehingga hasil produksinya ini betul-betul efektif, efisien dan menghasilkan kualitas yang baik," ujarnya.
Fernando menyoroti budi daya nila yang dilakukan di perairan waduk dan danau karena kondisi lingkungan perairan dapat berubah, terutama ketika terjadi fenomena upwelling.
Menurut dia, pembudidaya perlu mengetahui daya dukung perairan sebelum menentukan jumlah ikan yang dibudidayakan agar kepadatan tidak melebihi kemampuan waduk atau danau.
"Pertama memang carrying capacity menjadi perhatian penuh, berapa carrying capacity yang ideal untuk luasan danau atau waduk yang dijadikan area budi daya, itu harus dipahami oleh pembudidaya," katanya.
Ia mengatakan potensi kematian ikan saat terjadi perubahan kondisi perairan, dapat ditekan apabila pembudidaya telah menyiapkan langkah mitigasi.
Dia menyampaikan, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menambah blower untuk membantu sirkulasi dan oksigen serta mengurangi kepadatan ikan ketika terjadi upwelling.
"Jadi, sekalipun upwelling terjadi setidaknya dampaknya tidak masif terhadap usaha budi daya, kasihan kalau tidak begitu," ujar dia pula.