Sementara di sektor kelautan dan perikanan, mengacu pada data Food and Agriculture Organization (FAO), produksi perikanan tangkap dan budi daya akuatik dunia pada 2022 mencapai 223 juta ton, dengan kontribusi budi daya mencapai 51 persen dari total produksi akuatik dunia. Perkembangan tersebut membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kebutuhan tenaga kerja dengan keahlian baru.

Pemanfaatan teknologi, otomasi, kecerdasan buatan, tuntutan ketertelusuran produk, perubahan iklim, serta penguatan praktik perikanan berkelanjutan juga turut mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Pergeseran menuju budi daya dan hilirisasi juga membutuhkan SDM yang tidak hanya menguasai aspek produksi, tetapi memahami teknologi pengolahan, manajemen usaha, standar mutu, hingga rantai pasok produk kelautan dan perikanan.

Kondisi tersebut, sambungnya, menuntut pendidikan vokasi untuk tidak hanya berorientasi pada penyelesaian proses pendidikan, tetapi juga memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk itu, perlu penyelarasan kurikulum dengan industri, modernisasi sarana dan prasarana, peningkatan pembelajaran berbasis praktik, serta penguatan riset dan inovasi bersama DUDI. Dengan demikian, lulusan OII tidak hanya mampu bersaing di tingkat nasional, tapi juga global.

"Yang lebih penting dari pengalaman di luar negeri adalah mereka mendapatkan pengalaman industri di lokasi industri terbaik, yang kemudian dibawa untuk membangun industri kita di dalam negeri," tambah Irwan.