NADIKABAR.COM — Komando Distrik Militer (Kodim) 0418/Palembang, Sumatera Selatan, membentuk posko penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tingkat Koramil untuk membantu masyarakat melakukan tindakan pencegahan serta pemadaman karhutla di wilayah 18 kecamatan.

"Menghadapi musim kemarau 2026 yang dipengaruhi El Nino itu, prajurit TNI di Posko Karhutla Koramil diperintahkan memantau kawasan yang terdapat banyak lahan kosong, semak belukar, dan pohon serta melakukan berbagai aksi yang bisa mencegah terjadinya karhutla dan pemadaman bersama masyarakat setempat," kata Komandan Kodim 0418/Palembang Kolonel Arh Erik Novianto, di Palembang, Senin.

Dia menjelaskan, pihaknya mengerahkan seluruh personel termasuk Bintara Pembina Desa (Babinsa) membantu masyarakat memadamkan serta melakukan pencegahan karhutlaterutama di kawasan pinggiran Ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel) itu.

Beberapa pekan terakhir pihaknya bergerak cepat menangani kebakaran lahan kosong bersama masyarakat di sejumlah kawasan pinggiran kota.

Kebakaran lahan yang ditangani bersama masyarakat seperti di wilayah Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, dan di kawasan Jalan Sungai Lacak, RT 14/RW 05, Kelurahan Pulo Kerto, Kecamatan Gandus, Palembang.

Kemudian Babinsa Kodim 0418/Palembang bersama tim gabungan bergerak cepat menangani kebakaran lahan gambut dan semak belukar sekitar 5 hektare di wilayah Kelurahan Karya Jaya, perbatasan Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir.

Untuk mencegah terulang kembali kebakaran lahan di kawasan tersebut dan daerah lainnya, pihaknya bersama unsur terkait terus melakukan pengamanan lokasi rawan karhutla.

Kecepatan prajurit TNI di Posko Karhutla Koramil bersama unsur gabungan dalam merespons kebakaran lahan di daerah pinggiran kota berbatasan dengan kabupaten rawan karhutla seperti Kabupaten Ogan Ilir dan Banyuasin menjadi langkah penting untuk mencegah meluas kebakaran yang asapnya kini mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.

Keterlibatan prajurit TNI dan seluruh pemangku kepentingan adalah kunci utama agar kota ini terhindar dari kebakaran hutan dan lahan yang besar.

​”Sinergi antarlembaga dan pelaku usaha harus makin kokoh, mulai dari langkah pencegahan, kesiapsiagaan personel, hingga kecepatan penanganan jika ditemukan titik api," kata Erik.