NADIKABAR.COM — Wakil urusan politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Yadollah Javani menyatakan pasukan Iran beroperasi dengan asumsi Amerika Serikat atau Israel dapat melancarkan serangan kapan saja. Iran kini bersiap menghadapi skenario apapun yang dirancang musuh.
Hal itu disampaikannya kepada kantor berita semi-resmi Fars, dilansir Al Jazeera, Minggu (1/11/2026). Javani mengatakan militer Iran "sepenuhnya siap menghadapi skenario apa pun yang mungkin dirancang oleh musuh". Ia juga menegaskan Iran tidak akan lengah dan akan memberikan respons yang diperlukan.
Javani mengatakan kapabilitas militer Iran saat ini memungkinkan mereka untuk menghadapi musuh tidak hanya secara defensif, tetapi juga melalui operasi preventif maupun ofensif.
Selain itu, ia menyatakan Iran mampu melancarkan serangan yang berat dan menghancurkan terhadap kapal-kapal perang AS, serta memperingatkan bahwa wilayah mana pun yang coba dimasuki oleh pasukan musuh-baik melalui serangan udara maupun lintas perbatasan-akan berubah menjadi "medan pembantaian" bagi mereka.
Sementara itu, Anggota Parlemen Senior Iran Ebrahim Azizi, mengatakan Iran akan berikan respons segera dan tegas terhadap serangan apa pun. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di Majelis Permusyawaratan Iran itu menegaskan perintah Khamenei kepada para komandan militer bersifat final dan mengikat.
"Kami akan merespons setiap ancaman dengan segera dan jauh lebih keras daripada sebelumnya, serta tidak akan ada batasan apa pun, baik secara geografis maupun terkait target yang disasar," ujar Azizi melalui akun X resminya.
"Tidak diragukan lagi, kamilah yang akan menentukan akhir dari perang ini, bukan pihak yang kalah dalam perang 12 hari maupun perang 40 hari," tambahnya.
Sebelumnya, Khamenei memerintahkan para komandan militernya untuk bersiaga penuh guna menangkal segala ancaman dari Amerika Serikat dan Israel. Ia juga mengutus negosiator ke Doha untuk melakukan pembicaraan dengan pihak AS dalam upaya mengakhiri perang tersebut.
"Perselisihan antara AS dan Iran, yang telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, harus segera diselesaikan agar jalur perdagangan krusial ini dapat dibuka kembali," ujarnya.
Ia menyebut negara lain tidak ada yang menginginkan adanya konflik baru.
"Terdapat antisipasi dan rasa ingin tahu mengenai bagaimana diskusi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran akan berkembang, serta apakah konflik baru mungkin muncul atau tidak," kata diplomat tersebut.
Ia menyimpulkan, "Hampir semua negara yang hadir sepakat bahwa konflik baru harus dihindari dan diplomasi harus terus diberi kesempatan."