Salah satu contoh peluang itu, kata dia, yakni kopi Lampung yang sudah dikenal hingga mancanegara jika diintegrasikan dengan kebijakan hilirisasi dengan mendorong peningkatan kualitas kemasan dan branding yang memperluas potensi pasar hingga ekspor.
Demikian pula dengan singkong dan pisang Lampung yang dapat diversifikasi menjadi berbagai produk turunan selain keripik.
Potensi serupa juga berlaku untuk produk lokal dan kerajinan Lampung agar tidak hanya dijual sebagai barang mentah, atau cedera mata biasa, tapi dikemas dengan cerita budaya dan desain inovatif.
Menurutnya, integrasi membuat suatu wilayah wisata memiliki kekhasan seperti perpaduan kuliner lokal, fesyen, seni pertunjukan, dan kriya yang diproduksi oleh industri kreatif setempat.