"Untuk omzet kita sebelum ada pembiayaan dari LPDB karena hanya beberapa item saja yang kita jual, satu bulan belum sampai Rp 50 juta. Setelah ada pembiayaan, saat ini kita kurang lebih di Rp 260 juta untuk dua gerai," tuturnya.

Menurut Yusril, kontribusi terbesar berasal dari gerai sembako karena kebutuhan pokok menjadi barang yang paling banyak dicari masyarakat. Omzet minimarket saat ini disebut berada di kisaran Rp 7 juta-Rp 9 juta per hari, meski angka tersebut dapat berubah tergantung jenis barang dan program promosi.

Pertumbuhan KDMP Wonokerto tidak hanya terlihat dari omzet koperasi. Pengurus juga berupaya menjadikan gerai tersebut sebagai ruang pertemuan antara produk lokal, pedagang kecil, dan konsumen.

Sejumlah UMKM di sekitar desa dapat menitipkan produk mereka melalui koperasi. Produk yang masuk antara lain asinan mangga, cokelat karakter, es mambo, makanan ringan kemasan ulang, telur asin, dan keripik pisang aneka rasa.

Salah satu produk yang masuk ke gerai tersebut adalah asinan mangga buatan Anita Kurniawati. Produk itu dibuat secara musiman dengan memanfaatkan hasil kebun mangga miliknya, terutama ketika harga mangga sedang turun.

Melalui koperasi, Anita tidak hanya mengandalkan penjualan dari lingkungan pertemanan dan status WhatsApp. Produk asinan mangga miliknya dapat ditawarkan kepada konsumen yang datang ke gerai, sekaligus diperkenalkan melalui kegiatan promosi koperasi.

Sistem penitipan dilakukan secara konsinyasi. Anita mengirimkan produk ke koperasi, sedangkan pembayaran diberikan berdasarkan jumlah yang terjual. Produk yang belum terjual akan dikembalikan setelah dilakukan pengecekan stok.

Yusril mengatakan koperasi juga membantu mempromosikan produk UMKM melalui media sosial. Sejumlah produk lokal Wonokerto bahkan pernah dibawa dalam kegiatan pameran di Jakarta untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Kehadiran minimarket koperasi sempat menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah pemilik toko kelontong di sekitar Wonokerto. Mereka menganggap koperasi berpotensi menjadi pesaing baru.

Namun, pengurus KDMP memilih pendekatan berbeda. Pemilik warung justru diajak bergabung sebagai anggota dan memanfaatkan koperasi sebagai tempat kulakan.

Yusril mengatakan sejumlah toko di sekitar koperasi kini membeli barang, termasuk LPG, dari KDMP. Dengan begitu, warung tetap dapat menjual kembali barang kepada warga dengan harga yang lebih kompetitif.