"Banyak warga yang mempunyai toko protes dengan hadirnya koperasi. Kita bisa menyikapi itu dengan mengajak bergabung menjadi anggota koperasi. Nanti kita bisa memberi harga yang lebih murah, sehingga toko-toko kelontong di sekitar bisa menjual dengan harga yang sama dengan yang dijual di koperasi," jelasnya.

Menurut Yusril, pola tersebut juga membantu masyarakat mendapatkan LPG dengan harga lebih rendah. Sebelum koperasi hadir, warga disebut membeli gas LPG 3 Kg dengan harga sekitar Rp 20 ribu-Rp 21 ribu. Kini, harga di koperasi berada di kisaran Rp 18 ribu.

Selain menjadi tempat belanja warga, KDMP juga menyediakan sarana produksi pertanian, seperti pupuk dan pestisida. Sebelumnya, petani harus membeli kebutuhan tersebut ke luar desa, bahkan ke luar kecamatan.

Melalui unit saprodi, petani dapat memperoleh kebutuhan pertanian dengan jarak yang lebih dekat. Sejumlah pemasok juga memberikan edukasi mengenai penggunaan produk dan dosis yang diperlukan untuk tanaman, termasuk mangga.

Pengurus KDMP Wonokerto tidak hanya mengandalkan lokasi gerai untuk menarik pembeli. Mereka menggunakan TikTok, Instagram, dan WhatsApp sebagai saluran promosi sekaligus layanan komunikasi dengan masyarakat.

Konten yang dibuat mengikuti tren media sosial, tetapi tetap diarahkan untuk mempromosikan barang dan layanan koperasi. Produk yang paling sering dipromosikan antara lain beras dan minyak goreng dengan harga sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Melalui media sosial, koperasi juga menginformasikan promo, program undian, serta layanan pengaduan yang terhubung dengan kasir, ketua, dan sekretaris. Akun TikTok koperasi disebut telah memiliki lebih dari 400 pengikut dengan hampir 50 konten.

Koperasi juga mengembangkan kartu anggota dengan sistem barcode. Setiap transaksi anggota dapat dicatat dalam basis data dan dikonversi menjadi poin yang nantinya dapat ditukarkan melalui program penghargaan pada akhir tahun.

Di balik pertumbuhan omzet, KDMP Wonokerto masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan tenaga kerja. Pengurus menyebut perekrutan pekerja belum dilakukan secara luas karena biaya operasional dan gaji masih bergantung pada pendapatan koperasi.

Untuk menjaga operasional, pengurus menggandeng konsultan ritel dan konsultan laporan keuangan. Sistem kasir juga digunakan untuk memantau pergerakan stok, sedangkan pemeriksaan stok dilakukan secara berkala.

Ke depan, KDMP Wonokerto berencana mengembangkan usaha baru, termasuk budidaya ikan lele atau nila. Pengurus juga menjajaki peluang kerja sama dengan pengelola program Makan Bergizi Gratis agar hasil budidaya atau produk pangan lokal dapat masuk ke rantai pasok kebutuhan makanan.