NADIKABAR.COM — Industri kopi di kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat, terus mengalami transformasi, terutama dalam meningkatkan taraf hidup para petani lokal. Namun, perjalanan menuju keberhasilan ini tidak lepas dari bayang-bayang minimnya pemahaman petani terhadap pengolahan kopi serta akses pasar yang terbatas.

Siang itu, dalam acara Ciremai Coffee Culture Festival di Kuningan, Taufik Hernawan selaku Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai tampak sedang sibuk berkomunikasi dengan para pelaku industri kopi yang lain. Menurutnya, momen seperti ini memang paling cocok untuk dijadikan sebagai ajang promosi sekaligus memperkenalkan Kopi Java Buana Ciremai Buana.

Kopi Java Buana Ciremai sendiri merupakan kopi kelompok tani sekaligus merek (brand) kolektif kopi yang mengelola dan memasarkan hasil panen kopi khususnya varietas Arabika dari lereng Gunung Ciremai. Keberadaan Kopi Buana Ciremai bermula dari keresahannya terhadap praktik pencatutan merek yang merugikan petani lokal. Menurutnya, kopi dari Gunung Ciremai kerap kehilangan identitas asalnya begitu masuk ke tangan pembeli besar dari luar daerah.

Padahal, eksistensi kopi di wilayah ini bukan barang baru. Taufik menyebut budi daya kopi di Kuningan-Majalengka merupakan warisan zaman Belanda sejak 1853. Selama 150 tahun lebih, varietas Arabika, Robusta, hingga Liberika tumbuh subur di tanah Pasundan ini.

"Kopi dari Gunung Ciremai ini banyak diambil orang luar kota. Brand-nya lepas. Kalau diambil kota A, namanya jadi kopi kota A. Asal geografis Kuningannya hilang. Kami mau melindungi ini, jangan sampai identitas aslinya hilang. Arabika, Robusta, Liberika. Ketiga kopi ini hasil sebenarnya warisan dari nenek moyang kita yang ditanam Belanda 1852," tutur Taufik saat ditemui pada Sabtu (5/9/2026).

Nama 'Java Buana Ciremai' sendiri merujuk pada dua lokasi utama, yakni Gunung Cakra Buana di Majalengka dan Gunung Ciremai yang melintasi dua kabupaten. Menurutnya, kopi Gunung Ciremai memiliki karakteristiknya tidak jauh dari kopi Jawa Barat lain yang cenderung fruity dengan aroma unik seperti melati, aren, hingga nanas yang keluar secara alami.

Saat ini, lebih dari 50 kelompok tani atau sekitar 500 orang terlibat dalam ekosistem Java Buana Ciremai. Fokus utama asosiasi sekarang adalah memperketat standar operasional prosedur (SOP) pascapanen. Tujuannya jelas: memastikan petani mendapat harga tinggi melalui kualitas yang konsisten, sekaligus memutus ketergantungan pada rantai tengkulak yang selama ini menggerus keuntungan mereka.

Taufik memaparkan sebelum adanya Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai, kondisi para petani kopi di Gunung Ciremai sangat memprihatinkan. Kala itu, meski memiliki lahan yang subur, namun karena ketidaktahuan budidaya kopi yang baik dan benar membuat banyak petani kopi Gunung Ciremai sering mengalami kerugian.

Bahkan, kopi Arabika yang kini paling digemari, dianggap sebagai kopi melinjo yang memiliki kualitas buruk dan rasa yang pahang karena tidak dibudidaya dengan baik. Saat itu, karena tidak tahu cara mengolah kopi, membuat para petani tidak pernah menikmati hasil panen mereka sendiri karena seluruh produk dijual mentah. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya para tengkulak yang membeli hasil kopi dari petani dengan harga murah.

"Tahun 2015 itu masyarakat, petani nggak tahu itu namanya kopi Arabika. Taunya kopi melinjo katanya. Karena ketika matang mirip melinjo, gede-gedenya tuh. Mereka punya Arabika tapi full 100% dijual, nggak pernah dicicipi. Petani kopi enggak tahu rasa kopi. Untuk tengkulak sekarang saja ini di angka Rp52.000 sekilo. Kalau yang berkualitas, itu di atas Rp180.000. Kan kasihan, jauh banget," tutur Taufik.

Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2017, ia mulai mengumpulkan para petani lokal di kawasan Gunung Ciremai. Mereka mulai diberi pelatihan serta akses pasar yang lebih luas. Transformasi besar ini didukung oleh Bank Indonesia (BI) Cirebon yang memberikan pendampingan hulu ke hilir. Fokus utamanya bukan kucuran modal tunai, melainkan edukasi, bantuan mesin, hingga pembukaan akses pasar melalui business matching.