NADIKABAR.COM — Korea Selatan (Korsel) pada Kamis (22/10) mengirim surat kepada Presiden Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang isinya mendesak Korea Utara (Korut) untuk meminta maaf atas insiden ledakan ranjau darat di zona demiliterisasi (DMZ) baru-baru ini serta mengambil tanggung jawab, demikian laporan kantor berita Yonhap.

Perwakilan tetap Korsel untuk PBB mengirimkan surat tersebut pada Kamis, mengatakan ledakan itu disebabkan oleh ranjau yang ditanam militer Korut dan merupakan pelanggaran nyata terhadap Perjanjian Gencatan Senjata Korea, yang secara resmi mengakhiri Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun.

Surat itu juga mendesak Korut untuk terlibat dalam dialog guna mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut dan memulihkan kepercayaan timbal balik. Surat tersebut menyerukan kepada komunitas internasional untuk memperhatikan pernyataan Korut baru-baru ini yang menyebut aktivitas militer Korsel di dekat garis demarkasi militer (MDL) sebagai "provokasi" dan upaya Korut untuk menyalahkan Korsel atas meningkatnya ketegangan regional.

Ledakan ranjau itu terjadi pada 21 September, ketika tentara Korsel sedang menjalankan misi di DMZ sisi Korsel di dekat MDL. Ledakan tersebut mengakibatkan tiga tentara luka-luka, dengan dua di antaranya mengalami luka serius.

Kepala Staf Gabungan Korsel pada 5 Oktober lalu mengatakan investigasi akhir mereka menemukan bahwa ledakan itu disebabkan oleh ranjau antipersonel yang ditanam Korut di sebelah selatan MDL. Kepala staf itu mendesak Korut untuk meminta maaf dan segera menyingkirkan ranjau tersebut.

Kementerian Luar Negeri Korut menolak temuan Korsel itu pada 6 Oktober, menyebut insiden itu sebagai "sandiwara" yang direkayasa oleh Korsel dan menuduh Seoul menetapkan kesimpulan sepihak serta mengalihkan tanggung jawab kepada Korut dalam apa yang disebutnya sebagai provokasi serius yang bertujuan untuk merusak citra nasional Korut.