Ia menambahkan bahwa tudingan tersebut merupakan upaya licik AS untuk mendapatkan keuntungan politis dan strategis, yang menurutnya justru akan memicu efek samping secara politik bagi AS sendiri.

Pekan lalu, pendiri Binance — salah satu platform transaksi aset kripto terbesar di dunia — Changpeng Zhao, mengonfirmasi bahwa platform miliknya menjadi target serangan peretas. Meskipun demikian, Zhao memastikan bahwa dana milik para pengguna tetap aman.

Berdasarkan perkiraan awal perusahaan, aset kripto yang terdampak oleh insiden tersebut bernilai sekitar 6,3 miliar dolar AS (sekitar Rp114,23 triliun).