NADIKABAR.COM — Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menyatakan bahwa Car Free Day (CFD) atau hari bebas kendaraan bermotor, merupakan salah satu upaya transformasi sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

"CFD bukanlah kegiatan rekreasi mingguan, melainkan bagian upaya mendorong transformasi sistem transportasi perkotaan berkelanjutan," kata Direktur Eksekutif KPBB Safrudin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, Jakarta khususnya masih menghadapi berbagai tantangan perkotaan yang semakin kompleks seperti pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, kemacetan lalu lintas, dan pencemaran udara.

Safrudin mengingatkan bahwa CFD mengajak masyarakat untuk mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan bermotor pribadi dengan mengubah "lifestyle" pada "sustainable urban mobility", yaitu budaya berjalan kaki, bersepeda, serta menggunakan angkutan umum masal dalam melakukan perjalanan sehari-hari.

Menurut dia, apabila mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan bermotor ini dapat berlangsung sebagai sebuah gerakan, maka akan mampu menurunkan beban kemacetan lalu lintas, pencemaran udara dan penghematan energi terutama BBM.

"Peringatan ke-24 Car Free Day hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam mengembangkan kebijakan perkotaan yang humanis yang ditandai oleh penurunan tantangan perkotaan," ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Budi Awaluddin menyatakan CFD sejalan dengan prinsip "avoid, shift, and improve" pada "Transport Demand Management" yaitu pengelolaan kebutuhan transportasi dengan menghindari perjalanan yang tidak diperlukan, dan mengalihkan perjalanan ke moda transportasi yang lebih berkelanjutan, serta meningkatkan efisiensi dan kinerja teknologi kendaraan.

"Kita harus menyadari bahwa pengendalian pencemaran udara tidak cukup hanya mengandalkan teknologi kendaraan yang lebih bersih. Diperlukan pula perubahan pola mobilitas masyarakat," katanya.