"Contohnya ibaratnya keluarga. Bibinya kalau datang, "Ini siapa?" katanya. Jadi kami kasih tahu, "Ini Bibi." "Oh, Bibi." "Ini siapa?" Suami Bibinya, "Ini Kila ndu, nakku," kami bilang. "Oh, Kila." Ya gitu-gitu aja ingatannya gitu," kata Elvinus.

Elvinus mengatakan, dirinya tidak mendapatkan penjelasan terkait gangguan ingatan Febiona sejak awal. Namun, ia mendapatkan penjelasan tersebut saat Febiona sudah dirawat inap.

"Cuman di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya kan pindah ruangan, dibilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga udah ada, kenapa nggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu," kata Elvinus.

Ia bercerita, Febiona merupakan siswi berprestasi di sekolahnya. Ia kerap mendapatkan ranking pertama di kelas dan menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS.

Sejak kejadian keracunan massal karena MBG dan menjalani perawatan, Febiona sangat ingin segera masuk sekolah. Namun karena kondisi yang belum memungkinkan, ia harus menunda hal tersebut.

"Selama ini belajar dia juara satu. Mulai dari kelas satu dia semester awal, dia juara satu. Terus dia wakil ketua OSIS di sekolahnya. Makanya dia selalu bilang, "Aku mau sekolah, aku mau sekolah," katanya. Ya tapi kayak mana kita ngasih dia mau sekolah?" ungkap Elvinus.

Saat ini, kata Elvinus, kondisi Febiona masih belum pulih sepenuhnya. Lidah Febiona sedikit masuk ke dalam dan menyebabkan dia kesulitan berbicara.

"Kondisinya sekarang itu tadi, lidahnya agak masuk ke dalam. Terus tadi kami datang ke poli psikiatri, dibilang kalau besok neurologi ngasih obat," ungkapnya.

Elvinus mengeluhkan kondisi putrinya yang harus bolak-balik ke rumah sakit. Ia berharap Febiona mendapatkan perawatan dan obat yang tepat sehingga tidak harus keluar-masuk rumah sakit.