NADIKABAR.COM — Samsung dan Google menaikkan harga sejumlah ponsel kelas terjangkau (budget) mereka di tengah kondisi pasokan RAM yang semakin terbatas dan berdampak pada industri teknologi.

Dilansir dari laporan Engadget pada Jumat (2/10) waktu setempat, Google menaikkan harga Pixel 10a sebesar 100 dolar AS (Rp1,79 juta). Sementara Samsung menaikkan harga seluruh jajaran Galaxy A, dengan kenaikan yang berkisar antara 30 hingga 70 dolar AS (Rp537 ribu hingga Rp1,25 juta) dibandingkan harga sebelumnya.

Untuk Samsung, Galaxy A17 5G kini dibanderol 270 dolar AS (Rp4,83 juta), naik dari sebelumnya 200 dolar AS (Rp3,58 juta). Ponsel tersebut sebelumnya juga telah mengalami kenaikan harga pada Agustus.

Galaxy A27 5G naik dari 350 dolar AS (Rp6,26 juta) menjadi 380 dolar AS (Rp6,80 juta), sedangkan Galaxy A37 5G meningkat dari 450 dolar AS (Rp8,05 juta) menjadi 490 dolar AS (Rp8,77 juta).

Sementara itu, Galaxy A57 5G mengalami kenaikan dari 550 dolar AS (Rp9,84 juta) menjadi 600 dolar AS (Rp10,73 juta).

Kenaikan tersebut menjadi penyesuaian harga kedua yang dilakukan Samsung dalam sepekan. Dengan perubahan harga terbaru itu, seluruh lini Galaxy A kini memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Di sisi lain, Google menaikkan harga Pixel 10a yang sebelumnya mulai dijual dengan harga 499 dolar AS (Rp8,92 juta) pada Maret. Setelah kenaikan sebesar 100 dolar AS, perangkat tersebut kini dibanderol 599 dolar AS (Rp10,72 juta) di Amerika Serikat.

Kenaikan harga juga terlihat lebih besar di Kanada. Pixel 10a sebelumnya diluncurkan dengan harga 679 dolar Kanada (Rp8,52 juta), tetapi kini harganya mencapai 849 dolar Kanada (Rp10,6 juta).

Kenaikan harga ponsel tersebut terjadi ketika industri teknologi menghadapi keterbatasan pasokan RAM. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi perangkat karena memori menjadi salah satu komponen yang dibutuhkan dalam pembuatan ponsel pintar.

Kondisi pasokan RAM ke depan juga masih belum pasti. Salah satu skenario yang lebih optimistis adalah peningkatan produksi RAM di China dapat membantu memperbaiki pasokan dalam sekitar satu tahun.

Namun, terdapat pula perkiraan bahwa harga RAM tetap mahal hingga 2030. Jika kondisi tersebut berlanjut, kenaikan harga perangkat kelas terjangkau berpotensi menjadi persoalan yang lebih panjang bagi konsumen.

Penerjemah: Farhan Arda Nugraha