Beragam material hadir dalam pameran Kriyanusa, mulai dari kayu, kain seperti batik dan tenun, logam, kulit, anyaman, kertas dan material daur ulang, keramik, hingga tanah liat.
Ayu mengatakan keberagaman peserta tersebut menjadi gambaran bahwa ekosistem kriya di Indonesia dibangun oleh banyak pihak. Kriya bukan hanya milik satu daerah atau sekelompok, melainkan merupakan kekayaan bersama yang perlu kita rawat, kembangkan, dan dorong agar semakin dikenal di dalam maupun luar negeri.
“Kami berharap keragaman tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pameran, tapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal, menghargai, membeli, dan menggunakan produk kriya Indonesia,” ujar Ayu.