Korban dugaan perusakan rumah melaporkan peristiwa itu ke Polres Sukoharjo. Kemudian malamnya pukul 22.30 WIB, massa dari PSHT mendatangi Mapolsek Polokarto untuk menanyakan terkait laporan itu.

Kapolsek Polokarto, AKP Sri Haryanto mengatakan saat itu ada sekitar 500 massa dari PSHT yang meminta keterangan dari kepolisian. Pihaknya menerima massa di Polsek Polokarto bersama sejumlah pejabat dari Polres Sukoharjo.

"Tadi malam PSHT keluar dengan analisa massa sebanyak 500-an orang, dan mereka meminta keterangan dari kepolisian. Langkah yang kita lakukan, kita terima di Polsek, dan juga hadir penjabat Polres yang memberikan keterangan. Langkah pemeriksaan tidak bisa serta merta, tapi tahap demi tahap sudah kita lakukan, di antaranya pemanggilan saksi, setelah itu olah TKP," kata Sri Haryanto.

Pada Senin (7/9) pukul 00.30 WIB, ketika massa dari PSHT meninggalkan kantor polisi kemudian melintasi di Desa Mranggen, ternyata terjadi lemparan batu.

"Di Mranggen karena massa banyak, terjadi kontak lempar batu. Kita sudah lakukan langkah itu (pengawalan). Di Mranggen sudah kita tempatkan kekuatan, tapi karena massanya banyak. Kejadian keributan itu spontan saja," jelasnya.

Sri menegaskan hingga Senin siang belum ada korban yang melaporkan atas kejadian keributan tersebut. Meski demikian Sri mengatakan kepolisian siap menjembatani dua belah pihak.