NADIKABAR.COM β€” Pembentukan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Watimpres) periode terbaru dengan kekuatan 26 figur berbobot menyita perhatian publik karena ukurannya membengkak dibanding era sebelumnya.

​Namun, jika dilihat dari sosok di baliknya, latar belakang para anggota teramat heterogen dengan kepakaran masing-masing.

Istana Negara menjadi tempat berhimpunnya rentang spektrum para tokoh yang begitu lebar. Di sana mempertemukan teknokrat dingin semacam Ignasius Jonan, pebisnis kawakan Chairul Tanjung dan Dato' Sri Tahir, pengamat hukum tata negara Margarito Kamis, hingga kritikus vokal yang kerap melontarkan diksi tajam seperti Rocky Gerung.

Formasi ini makin lengkap dengan kehadiran deretan tokoh keagamaan lintas iman, mulai dari figur intelektual Nahdlatul Ulama Quraish Shihab dan Sinta Nuriyah Wahid, pimpinan gereja Jacky Manuputty, hingga representasi umat Buddha dan Khonghucu.

Di atas kertas, racikan komposisi multisektoral ini menjanjikan ketersediaan pasokan ide yang luas. Bak sebuah laboratorium pemikiran di mana setiap keputusan eksekutif berpeluang diuji terlebih dahulu melalui ruang simulasi yang cukup ketat sebelum disodorkan ke ranah domestik maupun internasional.