Menurut Hanung, tema tersebut kala itu dianggap belum tentu menarik secara komersial. Namun, Nikita yakin kisah perempuan yang berani mengambil keputusan demi kehidupan lebih sehat memiliki penontonnya sendiri.

"Niki yakin ada orang yang akan menonton film ini, yaitu para perempuan yang kepingin menjadi dirinya sendiri, yang memilih menjadi sehat, menjaga kewarasan demi anak-anaknya dan lepas dari hubungan yang toxic," jelasnya.

Untuk mengembangkan ide tersebut, Hanung melibatkan penulis skenario Titien Wattimena. Naskahnya kemudian dikembangkan bersama Dmaz hingga menjadi film yang siap tayang di bioskop.

Hanung berharap pesan Beautiful Pain bisa menyentuh penonton, terutama perempuan yang memiliki pengalaman serupa.

"Semoga ini semuanya bisa sampai ke hati penonton, terutama para perempuan," tambahnya.

Sementara itu, Dmaz Brodjonegoro mengaku memiliki kedekatan emosional dengan cerita Beautiful Pain. Film ini menjadi debutnya, sebagai sutradara layar lebar sekaligus proyek yang berkaitan dengan masa lalunya sebagai anak yang dibesarkan oleh ibu tunggal.