NADIKABAR.COM — Mengadaptasi novel populer "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori ke layar lebar bukan perkara mudah. Cerita yang disuguhkan menampilkan beragam karakter, peristiwa, dan lapisan emosi itu, harus dirangkum ke dalam film berdurasi 135 menit.

Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada bagaimana mempertahankan inti cerita, tetapi juga bagaimana menghadirkan tontonan yang tetap bermakna bagi penonton, termasuk mereka yang telah lebih dahulu mengenal kisahnya melalui novel.

Sutradara Yosep Anggi Noen yang turut menulis skenario film ini bersama penulis Leila S. Chudori tampaknya memahami bahwa film tidak harus menjadi salinan visual dari setiap bab dalam buku.

Alih-alih memindahkan seluruh peristiwa secara harfiah, keduanya memilih menampilkan cerita dengan menempatkan sisi kemanusiaan sebagai pusat penceritaan.

Hasilnya adalah sebuah karya yang berdiri dengan karakter sinematiknya sendiri, sekaligus mempertahankan ruh kisah tentang keberanian anak muda, kehilangan, dan keluarga yang harus melanjutkan hidup di tengah ketidakpastian.

Sejak awal, film ini memperlihatkan pendekatan penceritaan yang terasa berbeda dari sejumlah karya Yosep Anggi Noen sebelumnya.

Sutradara yang kerap dikenal melalui film dengan tempo lambat, suasana sunyi, dan penggunaan simbol yang kuat, seperti dalam "Istirahatlah Kata-Kata" (2017) atau Hiruk-Pikuk si Alkisah" (2020), kali ini memilih alur yang relatif lebih mudah diikuti.

Ketegangan dibangun melalui rangkaian peristiwa yang bergerak cukup cepat, sebelum cerita perlahan mengarahkan perhatian penonton pada dampak kehilangan terhadap orang-orang yang ditinggalkan.

Struktur film terbagi dalam dua bagian besar dengan suasana emosional yang kontras, tetapi saling melengkapi.

Bagian pertama membawa penonton ke dalam atmosfer ketakutan di tengah pergerakan mahasiswa. Kehidupan sekelompok anak muda digambarkan melalui aktivitas yang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kewaspadaan terhadap ancaman, serta upaya menjaga kepercayaan di tengah situasi yang tidak aman.

Ruang publik yang semestinya menjadi tempat beraktivitas berubah menjadi ruang yang menyimpan risiko. Pertemuan, percakapan, dan hubungan pertemanan tidak lagi berlangsung dalam situasi biasa. Setiap gerak seolah harus diperhitungkan karena ancaman dapat muncul kapan saja.

Ketegangan tersebut menjadi fondasi bagi film untuk memperlihatkan bagaimana keberanian, persahabatan, dan keyakinan diuji ketika seseorang memilih bertahan pada prinsip yang diyakininya.

Namun, upaya memadatkan hubungan antarkarakter yang dalam novel digambarkan dekat dan hangat menjadi salah satu tantangan pada bagian awal.

Keterbatasan durasi semestinya tidak memangkas sejumlah cerita sampingan.

Karena dampaknya, kedekatan emosional antara penonton dengan tokoh utama cerita, Biru Laut, mungkin tidak terbentuk sekuat ketika membaca novelnya.

Perpindahan dari satu peristiwa ke peristiwa lain terkadang tidak memberikan cukup ruang bagi penonton untuk mengenal karakter utama secara lebih mendalam.

Penonton yang belum membaca novel sebelumnya juga membutuhkan waktu untuk memahami hubungan dan latar belakang masing-masing tokoh pendukung.

Meski demikian, persoalan ini tidak sepenuhnya mengurangi kekuatan film karena penceritaan kemudian menemukan pijakan emosional yang lebih kuat pada paruh kedua.