NADIKABAR.COM — Dalam gelap, ia merasakan riuh kerumunan orang. Decit sepatu yang berlalu-lalang berpadu dengan suara roda koper yang bergesekan dengan lantai. Ada yang berjalan pelan, ada pula yang tergesa karena dikejar waktu.
Setiap beberapa menit, suara perempuan terdengar dari pengeras suara dengan bunyi nada pembuka yang khas, kemudian informasi mengenai waktu keberangkatan kereta pun disampaikan.
Begitu suasana yang terekam kuat dalam benak Abdul Rochim (27), seorang tunanetra asal Seyegan, Sleman, ketika dirinya berada di ruang tunggu Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, untuk pertama kalinya beberapa tahun lalu.
Di tengah keriuhan stasiun, ada satu suara yang memecah fokus Abdul. Hentakan sepatu pantofel yang terdengar dari kejauhan perlahan semakin jelas mendekat ke arahnya.
Dengan suara sedikit berat, seorang pria yang merupakan petugas KAI memperkenalkan diri dan menawarkan bantuan kepada Abdul yang saat itu sedang gelisah dan kebingungan.
"Itu pengalaman pertama kali aku naik kereta sendirian dari Lempuyangan mau ke Banyuwangi, sekitar tahun 2018," kata Abdul, yang ditemui akhir pekan pertama September, di Stasiun Lempuyangan.
Abdul kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya kepada petugas tersebut, termasuk memberikan informasi mengenai kereta yang akan ditumpanginya dan menunjukkan tiket yang dibawanya.
Menurut Abdul, petugas tersebut dengan cepat memahami kebutuhannya dan kemudian menuntunnya hingga masuk ke dalam gerbong kereta serta mengantarkannya ke tempat duduk.