Masyarakat, ujar Sudirta, mulai dari pekerja harian, pengemudi ojek online, hingga wisatawan, harus kehilangan waktu produktif mereka hanya untuk mendapatkan BBM.​"Keterlambatan distribusi dengan alasan kendala logistik kapal yang bersandar di Terminal Manggis maupun Sanggaran tidak boleh menjadi alasan klasik yang terus berulang. Masyarakat kita yang menjadi korban, waktu mereka terbuang, dan ekonomi rakyat kecil terhambat," ujarnya.​Meski pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus telah mengonfirmasi bahwa kelangkaan ini disebabkan oleh keterlambatan kapal tanker dan saat ini telah menambah pasokan sebesar 26.200 kiloliter serta mengoperasikan terminal tertentu 24 jam penuh, Sudirta menilai langkah penanganan harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat dan evaluasi menyeluruh.

Terobosan Gubernur Bali Wayan Koster yang menginstruksikan agar seluruh SPBU yang ada di Denpasar dan Badung untuk membuka layanan selama 24 jam memang cukup membantu untuk mengurangi masalah, namun menurut pengelihatan langsung di lapangan, Wayan Sudirta menemukan bahwa sekalipun SPBU beroperasi 24 jam, akan tetapi sebagian dari SPBU yang ada sudah kehabisan minyak untuk dijual.

Untuk mengatasi krisis ini secara tuntas dan mencegah hal serupa terulang, I Wayan Sudirta menawarkan dan mendesak beberapa solusi strategis, di antaranya yaitu Pertamina harus memastikan tambahan pasokan BBM benar-benar terdistribusi merata ke seluruh SPBU yang kosong, khususnya di titik-titik krusial seperti Denpasar, Badung dan Tabanan.

Kemudian operasional 24 jam di Terminal Sanggaran dan Manggis harus diawasi ketat implementasinya di lapangan oleh pihak yang berwajib.