"Penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada seberapa cepat api dipadamkan. Keselamatan orang-orang yang menjalankan tugas juga harus menjadi pertimbangan utama. Setiap operasi pemadaman harus didahului pemetaan risiko, pemantauan arah angin dan pergerakan api, penentuan jalur evakuasi, serta sistem komunikasi yang memungkinkan petugas segera ditarik ketika situasi membahayakan," ucap dia.

Selain itu, Daniel mendorong para petugas dan relawan dibekali dengan alat pelindung diri (APD) saat melakukan pemadaman. Dia juga menekankan pentingnya jalur evakuasi bagi petugas pemadaman.

"Pemerintah dan instansi terkait memastikan seluruh petugas maupun relawan dibekali alat pelindung diri (APD) yang sesuai dengan risiko pekerjaan. Perlengkapan tersebut harus mencakup pakaian pelindung, helm, sarung tangan, sepatu lapangan yang sesuai, pelindung mata, serta masker atau respirator yang tepat untuk paparan asap dan partikulat. Ketersediaan alat komunikasi, perlengkapan pertolongan pertama, dan sarana evakuasi juga harus dipastikan sebelum personel diterjunkan ke lokasi kebakaran," katanya.

Daniel juga meminta adanya pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman bagi petugas dan relawan yang memadamkan karhutla. Dia juga mendesak adanya evaluasi menyeluruh dalam penanganan karhutla Bromo ini.

"Mendorong evaluasi menyeluruh terhadap peristiwa di Bromo untuk mengetahui penyebab kejadian, kecukupan prosedur keselamatan, kesiapan peralatan, dan langkah mitigasi yang telah dilakukan. Hasil evaluasi tersebut perlu menjadi dasar perbaikan sistem penanganan karhutla, sekaligus memastikan keluarga korban memperoleh perhatian dan dukungan sesuai ketentuan yang berlaku," udap Daneil.