Liga Arab juga memperingatkan tentang eskalasi serius yang menargetkan kompleks Masjid Al-Aqsa dan upaya untuk menciptakan realitas baru di sana. Liga Arab menyerukan kepada komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk memikul tanggung jawabnya dan memaksa Israel menghentikan semua tindakan dan praktik yang melanggar hak-hak rakyat Palestina dan kebebasan beribadah, serta status historis dan legal yang berlaku dari situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem yang diduduki. Mesir, dalam sebuah pernyataan dari kementerian luar negerinya, juga mengecam eskalasi Israel yang sedang berlangsung di Tepi Barat yang diduduki, penerobosan berulang para pemukim ke kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah perlindungan polisi Israel, serta pengetatan pembatasan pergerakan warga Palestina. Mesir menyatakan penolakan tegasnya terhadap pernyataan para pejabat Israel yang menyerukan perluasan operasi di Tepi Barat dan pelemahan Otoritas Palestina.
Mesir pun menekankan perlunya menghentikan semua tindakan sepihak dan eskalatif serta menghormati status historis dan legal Yerusalem yang selama ini berlaku. Mesir juga menegaskan kembali dukungannya untuk pembentukan negara Palestina yang merdeka di sepanjang garis perbatasan 4 Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Kompleks Masjid Al-Aqsa, yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai Bukit Bait Suci, dianggap oleh umat Muslim sebagai situs tersuci ketiga mereka. Sebelumnya pada Minggu tersebut, Kegubernuran Yerusalem dari Otoritas Palestina mengatakan bahwa 1.143 pemukim memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah pengamanan ketat polisi Israel, bertepatan dengan hari kedua perayaan hari raya Yahudi Sukkot, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Pondok Daun. Pada Minggu yang sama, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyerukan pembubaran total Otoritas Palestina dan kampanye militer habis-habisan terhadap kota-kota serta kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat menggunakan taktik serupa yang telah diterapkan di Gaza sejak Oktober 2023.