NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia memiliki potensi lahan budi daya rumput laut mencapai 3 juta hektare untuk mendukung hilirisasi di sektor maritim.
Dalam Indonesia International Sustainability Forum, di Jakarta, Rabu, Luhut memaparkan pengembangan potensi rumput laut di Indonesia bukan sekadar wacana belaka, melainkan proyek hilirisasi maritim yang sangat riil dan bernilai ekonomis tinggi, yang siap dikembangkan bersama para investor.
Untuk menopang industri tersebut, pemerintah telah mendirikan pusat riset pengembangan rumput laut di Buleleng (Bali) dan Lombok (Nusa Tenggara Barat).
Melalui kesiapan infrastruktur dan riset tersebut, Luhut mengajak investor global untuk tidak ragu berpartisipasi dalam pengembangan industri hijau berbasis kelautan di Indonesia.
Selain sektor maritim, Luhut juga memamerkan potensi komoditas kemenyan yang terpusat di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.
Menurutnya, Indonesia memegang peranan sangat vital dalam rantai pasok bahan baku aromatik dan farmasi dunia tersebut.
"Tolong catat ini, dalam dua hingga tiga tahun ke depan Anda akan melihat kemenyan. Sebanyak 60 persen pasokan kemenyan global berasal dari Indonesia. Kita memiliki sekitar 30.000 hektare hutan kemenyan di kawasan Danau Toba," kata dia.
Luhut membandingkan optimisme pengembangan rumput laut dan kemenyan ini dengan perjalanan hilirisasi nikel beberapa tahun lalu.
Menurutnya, saat awal diinisiasi, banyak pihak meragukan langkah pemerintah dalam hilirisasi nikel, tetapi kini terbukti memberi lompatan besar bagi perekonomian nasional.
Ia menyatakan bahwa potensi komoditas rumput laut dan kemenyan juga akan terbukti nyata dalam kurun dua sampai tiga tahun mendatang.
Dalam forum tersebut, Luhut pun mengajak para pelaku usaha global untuk tidak ragu menanamkan modal dan berkolaborasi di Indonesia. Kerja sama yang diharapkan tidak lagi sebatas alih teknologi, melainkan berfokus pada inovasi bersama serta pengembangan kapabilitas SDM lokal.