NADIKABAR.COM — Jarum pendek di jam sudah menunjukkan angka 7, Fina Felia bergegas berangkat menuju kantornya diantar sang suami. Ia sengaja pergi lebih awal setelah ramai informasi Kota Cimahi disergap macet parah beberapa bulan ke depan.

Penyebabnya adalah dua proyek yang berjalan bersamaan. Pertama, proyek pengerjaan Underpass Gatot Subroto-Jalan Baros. Lalu proyek kedua berupa perbaikan berkala Jembatan Pemkot Cimahi. Dampaknya sudah terasa di hari pertama proyek itu dimulai.

Kemacetan parah terjadi di jalan utama dan jalan alternatif yang disiapkan pemerintah sebagai rekayasa, Rabu (19/8/2026). Arus lalu lintas mengunci di Jalan Amir Machmud sebagai rute vital. Kendaraan dari arah Bandung, arah Parongpong, Padalarang, dan Cimahi Selatan tumplek di satu jalur yang sama.

Wanita 28 tahun itu berangkat dari rumahnya di Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Bersama suaminya, Roffi Febian (33), mereka menembus lautan kendaraan dengan misi yang sama: tak terlambat tiba di tempat tujuan.

"Tadi berangkat jam 7, pas sampai di Amir Machmud macetnya parah banget. Dari Jalan Kolmas juga sudah macet," kata Fina saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).

Beruntung, pikiran dan tubuhnya masih segar. Matahari juga belum menyengat seperti siang hari selama musim kemarau kali ini. Sedikit demi sedikit, roda kendaraan bergerak maju. Tak terasa, 30 menit dihabiskan dari rumahnya ke kawasan Alun-alun Cimahi.

"Biasanya 30 menit sudah sampai ke Cimindi, hari biasanya juga macet tapi masih bisa maju normal. Kalau sekarang kan macetnya bisa sampai berhenti, enggak maju sama sekali," kata Fina.

Setelah 60 menit perjalanan, ia baru tiba di daerah Rajawali, perbatasan tim redaksi Kota Bandung dengan Kota Cimahi. Ia bekerja di kawasan industri Caringin, Kota Bandung. Perjalanan yang biasa ditempuh hanya 45 menit, kini perlu waktu 75 menit.