"Semakin banyak perusahaan China yang melakukan ekspansi ke Indonesia, dan kebutuhan akan karyawan lokal yang menguasai bahasa Mandarin serta memiliki keterampilan teknis pun semakin meningkat. Saya ingin menantang diri saya sendiri," katanya.

Dwinita menggunakan alat penerjemah dan perangkat lunak AI untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang sulit. Dia berharap dapat menjadi lebih mahir dalam melakukan pengawakutuan (debugging) kode dan menerapkan AI terhadap masalah-masalah praktis di Indonesia, termasuk meningkatkan kualitas situs web layanan daring lokal.

"Selama pelatihan, pihak universitas menghadirkan para teknisi dari Conch ke dalam ruang kelas untuk mengajar dan secara rutin menggelar kunjungan ke lini produksi perusahaan itu, sehingga menghubungkan pembelajaran di kelas dengan produksi nyata di lapangan," kata Zhu Zhiguo, yang bertanggung jawab atas pendidikan internasional di universitas tersebut.

Bagi Dwinita, tujuannya adalah membawa keterampilan digital kembali ke Indonesia dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan digital serta informasi di tingkat lokal. Sementara itu, Nurkholish berharap dapat berkontribusi pada proyek-proyek konstruksi di kampung halamannya dan membantu memastikan kualitas bangunan.

Pengalaman mereka mencerminkan peran pendidikan vokasi yang lebih luas, yaitu menghubungkan Tiongkok dan Indonesia melalui keterampilan yang melampaui ruang kelas dan bertahan lama setelah kelulusan.