"Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan. Ketika sistem mendeteksi kondisi emosi anak telah kembali tenang (tidak tantrum), katup solenoid (solenoid valve) akan terbuka perlahan untuk mengempiskan rompi secara otomatis," kata anggota lain dari Teknik Elektro, Sugih Rizkiawan.

Tidak cuma mengandalkan automasi fisik, rompi tersebut juga terintegrasi penuh dengan sistem digital berbasis Internet of Things (IoT). Data aktivitas anak dan respons rompi kemudian dikirim langsung menggunakan koneksi WiFi ke aplikasi smartphone. Sehingga, orang tua dan terapis bisa langsung memantau situasi anak dari jarak jauh secara real time.

Pengembangan ADAPT-V didanai melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dan berada di bawah bimbingan dosen Teknik Elektro, Ir Nurussa'adah, MT, serta dosen Kedokteran, DR dr Agung Riyanto Budi S, SpOT.

"Pengembangan ADAPT-V ini melalui tahapan pengujian yang sangat ketat, mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udaranya. Kami juga melibatkan evaluasi langsung dari para terapis di lembaga pendidikan inklusif demi menjamin aspek kenyamanan, keamanan medis, serta kemudahan operasional alat saat diaplikasikan langsung pada anak," kata Ir Nurussa'adah.

Kehadiran rompi pintar ini diharapkan bisa jadi solusi berkelanjutan yang berdampak nyata untuk masyarakat luas. Inovasi ini juga jadi bukti kolaborasi berbagai disiplin ilmu dapat menghadirkan teknologi kesehatan yang empatik, solutif, dan berdaya guna untuk kemanusiaan.