NADIKABAR.COM — Seorang mahasiswi Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat (NTB), mengembangkan sebuah alat pemantau berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu memperoleh data kondisi perairan secara langsung.
Mahasiswi bernama Effi Mujahidah Saniyyah itu mengatakan alat tersebut berupa Sonora Marine, yakni prototipe alat pemantau kualitas perairan berbasis IoT.
"Sonora Marine merupakan singkatan dari Smart Ocean Network and Observation for Research and Analysis yang menggabungkan ilmu kelautan dengan teknologi," ujar perempuan yang akrab dipanggil Sani di Mataram, Rabu.
Alat tersebut menggunakan ESP32 sebagai mikrokontroler serta sejumlah sensor untuk membaca parameter kualitas air, seperti suhu, pH, dan salinitas. Data dari sensor dapat ditampilkan melalui layar yang dapat diakses menggunakan perangkat, seperti telepon seluler.
Sani menjelaskan Sonora Marine tidak ditujukan untuk langsung menyelesaikan seluruh persoalan pemantauan laut, tetapi menjadi prototipe yang dikembangkan agar proses pemantauan kondisi perairan dapat dilakukan secara lebih praktis dan terintegrasi.
Pengembangan alat tersebut berawal dari pengalamannya selama mengikuti kegiatan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terkhusus kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan perairan dan budi daya anggur laut atau Caulerpa.
Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mencoba menggabungkan pengetahuan yang diperoleh dari bidang kelautan dengan teknologi untuk mengembangkan sistem pemantauan kondisi perairan.
Dalam proses pengembangannya, Sani menghadapi tantangan, karena tidak memiliki latar belakang pemrograman maupun elektronika. Ia merupakan lulusan SMA jurusan Bahasa sebelum melanjutkan pendidikan ke Program Studi Ilmu Kelautan.
Ia kemudian mempelajari pemrograman dari dasar, termasuk penggunaan ESP32 dan sensor, hingga menjalani proses wiring, kalibrasi, pengujian alat, dan debugging.
"Karena aku belajar coding dari nol, proses debugging juga menjadi tantangan tersendiri," kata Sani.
Setelah prototipe dan program dikembangkan, Sani mengurus perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa hak cipta untuk program komputer yang menjadi bagian dari sistem Sonora Marine.
Ia mengatakan perlindungan tersebut ditujukan pada program atau kode yang menjadi bagian dari sistem, bukan alat fisiknya sebagai sebuah benda. Dokumentasi karya, mulai dari proses pengembangan, kode program hingga identitas pencipta, menjadi hal penting dalam proses pengajuan HKI.
Ke depan, Sani ingin Sonora Marine terus dikembangkan, terutama melalui pengujian di lapangan dan penyempurnaan sistem berdasarkan kebutuhan nyata.
"HKI itu bukan titik akhir, tapi justru bisa menjadi salah satu langkah awal untuk pengembangan berikutnya," ucapnya.