"Eyang Raden Santri kemudian menegur, karena kalau rusak bagaimana. Pria itu mengatakan, untuk melihat kembali, apakah tempat bekas ia melintas itu membuat rusak (saluran air), atau tidak," ucapnya.

Eyang Raden Santri pun melihat kembali sawahnya, dan tidak ada kerusakan pada saluran airnya. Karena merasa janggal, Eyang Raden Santri pun kemudian mengejar dan mengikuti pria misterius tersebut.

Saat berhasil dikejar, Eyang Raden Santri ditegur oleh pria tersebut karena membuntutinya. Karena Eyang Raden Santri menganggap pria itu memiliki kesaktian, dia ingin mengikuti pria tersebut. Kemudian Eyang Raden Santri dibawa ke Bengawan Solo. Pria tersebut juga membuat rakit untuk dinaikin Eyang Raden Santri.

"Kalau kamu mau ikut aku, kamu tak buatkan getek (rakit) ini. Rakit ini kalau jalan, kalau belum berhenti sendiri, kamu tidak boleh mentas (meninggalkan rakit)," ucap mantan dalang itu.

Eyang Raden Santri kemudian menuruti perkataan pria itu. Dengan rakit sederhana, dia menyusuri aliran Bengawan Solo selama beberapa hari hingga berhenti di Kampung Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.

Di sana, Eyang Raden Santri ditemukan warga dalam kondisi lemas karena belum makan beberapa hari. Di Kampung Keblokan, dia diberikan makan, hingga kondisi fisiknya pulih.

"Di sana (Keblokan) Eyang Raden Santri di-Islamkan, diajari baca surat-surat Al-Qur'an. Setelah itu, dia disuruh pulang dan menyiarkan agama Islam. Lalu dia punya nama Eyang Raden Santri itu," terangnya.

"Pria yang diikuti Eyang Raden Santri itu, kita prediksi adalah Wali Songo. Entah Sunan Kalijogo, entah Sunan Giri," imbuhnya.

Kembali ke Kampung Sentono, Eyang Raden Santri, kemudian menyebarkan ajaran agama Islam. Karena ajaran Islam yang disebarkan Eyang Raden Santri, dia kemudian menjadi salah satu tokoh yang dihormati.

Saat meninggal, jasadnya dikebumikan di makam yang kini sudah menjadi proyek WGM. Suparso mengatakan, dulu banyak peziarah yang datang ke makam Eyang Raden Santri.

"Saya dulu pernah nyadran (ziarah), makamnya cukup besar. Sebelum orang-orang ke masjid, di situ juga untuk topobroto. Yang berziarah orang dari mana-mana," ucapnya.

Seperti diketahui, pembangunan WGM menenggelamkan 51 desa yang tersebar di 7 kecamatan di Kabupaten Wonogiri, pada tahun 1974-1981. Proyek itu juga merelokasi warga dan makam di kampung Sentono. Suparso mengatakan, warga kampung pindah ke Jambi. Sementara makam-makam dipindah di daerah Balat Kantor Kelurahan Wuryantoro.