"Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul," pungkasnya.
Salah satu tokoh masyarakat di Kelurahan Wuryantoro, Suparso (77), mengatakan makam itu dulunya berada di Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari. Meski ada makam bersajarah milik Eyang Raden Santri, namun komplek pemakaman itu merupakan makam umum bagi warga Sentono.
"Dulunya itu makam kampung, tapi terkenalnya, sesepuhnya, namanya Eyang Raden Santri. Lalu makam itu juga makam keluarganya, anak cucu, dan juga jadi makam umum," kata Suparso kepada awak media, Rabu (9/9).
Dia menceritakan, Eyang Raden Santri merupakan warga kampung setempat. Dia merupakan seorang petani biasa. Suatu hari, dia tengah mencangkul untuk membuat saluran air di sekitaran sawahnya. Lalu ada seorang pria yang datang dan berjalan di saluran air yang tengah dibuat.
"Eyang Raden Santri kemudian menegur, karena kalau rusak bagaimana. Pria itu mengatakan, untuk melihat kembali, apakah tempat bekas ia melintas itu membuat rusak (saluran air), atau tidak," ucapnya.
Eyang Raden Santri pun melihat kembali sawahnya, dan tidak ada kerusakan pada saluran airnya. Karena merasa janggal, Eyang Raden Santri pun kemudian mengejar dan mengikuti pria misterius tersebut.
Saat berhasil dikejar, Eyang Raden Santri ditegur oleh pria tersebut karena membuntutinya. Karena Eyang Raden Santri menganggap pria itu memiliki kesaktian, dia ingin mengikuti pria tersebut. Kemudian Eyang Raden Santri dibawa ke Bengawan Solo. Pria tersebut juga membuat rakit untuk dinaikin Eyang Raden Santri.
"Kalau kamu mau ikut aku, kamu tak buatkan getek (rakit) ini. Rakit ini kalau jalan, kalau belum berhenti sendiri, kamu tidak boleh mentas (meninggalkan rakit)," ucap mantan dalang itu.
Eyang Raden Santri kemudian menuruti perkataan pria itu. Dengan rakit sederhana, dia menyusuri aliran Bengawan Solo selama beberapa hari hingga berhenti di Kampung Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.