Ia memproyeksikan nilai tukar Rupiah berpotensi kembali melemah ke level Rp18.200 per dolar AS dipicu oleh tekanan dari faktor eksternal dan domestik.

Menurut dia, kebijakan suku bunga bank sentral AS The Fed akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah Rupiah. Apabila The Fed lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah berpotensi lebih terjaga.

"Kalau mereka lebih hati-hati menaikkan suku bunga The Fed, artinya rupiahnya pun akan lebih terjaga," ujar Stefanus.

Ia pun memperkirakan tren pelemahan Rupiah masih akan berlanjut dalam jangka panjang, dengan posisi Rupiah akan berada di sekitar Rp17.900 per dolar AS, dan diproyeksikan dapat menyentuh level Rp18.200 dalam enam bulan mendatang.

"Enam bulan ke depan, mungkin di Maret 2027 akan di level Rp18.100-Rp18.200," kata Stefanus.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap Rupiah akan berasal dari faktor eksternal maupun internal.