NADIKABAR.COM — Juru bicara pemerintah Malaysia sekaligus Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil mengatakan pembakaran lahan di sejumlah wilayah di Indonesia, terjadi di luar ladang milik perusahaan Malaysia.
Fahmi dalam konferensi pers di Putrajaya, Malaysia, Jumat, mengatakan bahwa informasi itu disampaikan oleh Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Noraini Ahmad dalam rapat kabinet.
“Kabinet membahas isu kabut asap yang berdampak pada rakyat Malaysia. Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Noraini Ahmad telah menginformasikan pemeriksaan kembali perusahaan-perusahaan Malaysia yang mempunyai konsesi sawit, dan menunjukkan bahwa kebanyakan dari apa yang telah disaksikan, aktivitas pembakaran itu terjadi di luar konsesi sawit milik perusahaan Malaysia,” kata Fahmi.
Dia mengatakan, dalam rapat kabinet Malaysia juga disampaikan bahwa di Kalimantan secara umum belum ada hujan yang memadai.
Fahmi menyampaikan di Kalimantan terdapat satu perusahaan Malaysia yang lahannya ikut terbakar yakni Genting Plantations, tetapi api tidak berasal dari dalam ladang, melainkan merambat dari luar ladang perusahaan itu.
“Namun, apinya telah dipadamkan dan ukuran ladang itu adalah 5 hektare. Api tidak terjadi dari dalam, tetapi merambat dari luar,” jelasnya.
Dia mengungkapkan pihak terkait di Malaysia akan terus melakukan kontak dan dialog dengan perusahaan-perusahaan sawit Malaysia yang beroperasi di Indonesia.
Pada Senin pekan depan, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim akan mengadakan rapat kabinet khusus membahas kabut asap, dan hasil pertemuan akan disampaikan pada kesempatan berikutnya.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa penawaran bantuan penanganan karhutla oleh Malaysia kepada Indonesia, saat ini perlu dilakukan penyelarasan.
“Masalahnya, kebakaran telah meluas cukup jauh, sehingga bentuk bantuan dan aset apa pun yang telah kita tawarkan sejak sekitar sebulan lalu mungkin perlu dievaluasi kembali guna memastikan bantuan tersebut mencapai tujuannya,” kata dia.
“Oleh karena itu, diskusi, tindak lanjut, akan dilakukan. Namun, sejauh ini belum ada informasi terperinci atau spesifik mengenai aset apa yang akan dikirimkan, sehingga pembahasan masih terus berlangsung,” tambahnya.