Ukuran keausan gigi pada manusia Maros-LBB-1a dan CPL-R2a konsisten dengan spesies pinang utuh yang telah dikupas dan berukuran lebih kecil seperti pinang liar Areca triandra, tanaman asli Sulawesi Selatan. Berangkat dari situ, peneliti menduga bahwa keausan gigi melingkar merupakan akibat dari kebiasaan jangka panjang keduanya dalam mengisap pinang.
"Seiring waktu, menghisap biji-biji yang keras dan abrasif ini mengikis gigi para pencari makanan sedemikian parah, sehingga dalam beberapa kasus, ruang pulpa bagian dalam menjadi benar-benar terbuka," kata Profesor Adam Brumm, pemimpin penelitian dari Pusat Penelitian Evolusi Manusia Australia (ARCHE), Griffith University, dikutip dari laman kampus, Minggu (13/9/2026).
Pulpa gigi adalah bagian tengah gigi yang kenyal seperti jeli. Di dalamnya terdapat saraf, pembuluh darah, dan jaringan ikat. Lubang dan retakan dapat mengekspos pulpa gigi dan menyebabkan infeksi, dikutip dari laman Cleveland Clinic. "Ini akan sangat menyakitkan, menyebabkan kesulitan makan, dan sangat meningkatkan tingkat infeksi gigi kronis," sambung Brumm.
Peneliti memperkirakan, para pemburu-pengumpul kemungkinan terjebak dalam siklus meredakan sakit gigi dan sakit gigi itu sendiri. Tim peneliti mengatakan, meskipun kurang dikenal di masyarakat Barat, buah pinang dianggap sebagai zat psikoaktif terpopuler keempat di dunia setelah alkohol, kafein, dan nikotin.
Zat psikoaktif adalah senyawa alami atau sintetis yang bekerja pada sistem saraf pusat, menghasilkan perubahan dalam proses yang mengatur pikiran, emosi, persepsi, dan perilaku, seperti dijelaskan dalam laman Pan American Health Organization.
"Bagaimanapun, tampak kemungkinan bahwa Maros-LBB-1a dan CPL-R2a terjebak dalam siklus di mana mengisap biji pinang untuk meredakan sakit gigi berubah menjadi kebiasaan yang semakin kuat atau ketergantungan patologis karena kerusakan gigi mereka semakin memburuk," tulis peneliti.