NADIKABAR.COM — Parade Sound Horeg menjadi salah satu pilihan warga sebagai sarana memeriahkan perayaan kemerdekaan di berbagai daerah, terutama di Malang Raya. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan masih munculnya pro dan kontra di balik maraknya tradisi hiburan bersuara nyaring tersebut.
Dentuman musik berdaya tinggi yang mengiringi karnaval warga bukan sekadar menghadirkan hiburan, melainkan juga mencerminkan pergeseran cara masyarakat mengekspresikan kegembiraan dan kebersamaan di ruang publik. Perubahan dari perayaan tradisional menuju gaya kekinian dipandang sebagai dinamika budaya yang berkembang.
Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., menilai Sound Horeg sebagai bentuk budaya pop yang mencerminkan karakter masyarakat postmodern. Pergeseran bentuk ekspresi perayaan menurutnya adalah hal yang wajar.
"Sound Horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengekspresikan diri secara bebas. Meski menimbulkan pro dan kontra, secara sosiologis Sound Horeg tetap menjadi ruang masyarakat untuk merasakan kebersamaan," ujarnya, Senin (31/8/2026).