Menurut Mathias, pengalaman tersebut bahkan membuat perjalanan kariernya terasa semakin memiliki makna.

"Perjalanan karier saya ini adalah salah satu momen buat saya itu karier saya itu merasa punya makna dan arti. Artinya bisa share secara tulus gitu," katanya.

Dalam film Istimewa, sosok Mahendra bukan ayah kandung dari anak-anak Rumah Istimewa. Namun, kehadirannya menjadi sosok pelindung yang sangat berarti bagi mereka. Mathias mengatakan sosok ayah tidak seharusnya dibatasi oleh hubungan darah.

"Ayah itu adalah sosok yang bisa melindungi mereka. Siapa pun yang datang, anak siapa pun yang datang, kita yang lebih tua itu jatahnya ayah," ujarnya.

"Yang tidak mengayahkan itu adalah pikiran kita, bahwa kita memisahkan orang, 'ini kan bukan darah gue', 'ini kan bukan tetangga gue'. Itu yang rusak," sambungnya.

Sementara itu, sutradara Istimewa Ruben Adrian mengungkap pendekatan yang digunakannya ketika mengarahkan para pemain utama. Ia mengatakan tidak mengandalkan formula penyutradaraan tertentu, melainkan menggunakan pendekatan emosional.

"Ketika saya menjadi sutradara di film ini, saya sudah nggak pakai teknis, sudah nggak pakai formula dan segala macam, tapi saya pakai hati," kata Ruben.

Ruben menyebut para pemain anak dalam film tersebut sebagai sosok yang ia banggakan. Menurut Ruben, ketulusan para pemain turut membentuk film tersebut. Ia mengaku belajar mengenai kasih sayang dan memaafkan selama proses produksi.

"Teman-teman istimewa yang tadi teman-teman lihat yang ada di layar, itu adik-adik saya yang saya banggakan. Yang saya rasakan adalah energi dari ketulusan dari masing-masing semua karakter, semua pemain yang ada di sini. Dan itu ngebentuk dan menumbuhkan film Istimewa menjadi seperti sekarang," ujar Ruben.

"Buat saya, saya jadi belajar. Belajar tentang apa sih? Tentang saling mengasihi, saling memaafkan," lanjut Ruben.

Agus Kuncoro, yang berperan sebagai Aji, juga mengaku mendapatkan pelajaran besar dari para pemain penyandang disabilitas. Menurutnya, film Istimewa membuat dirinya kembali melihat kehidupan dari perspektif berbeda.

"Satu sih yang saya dapat, bahwa ini menyembuhkan saya dalam memandang hidup ini," kata Agus.

Ia membandingkan kehidupan para pemain yang memiliki keterbatasan fisik dengan orang-orang yang secara fisik lebih lengkap tetapi justru kerap mengeluh.