NADIKABAR.COM — Kobaran api membuat petugas gabungan berjibaku memadamkan kebakaran hutan di Gunung Prongos, Ponorogo. Tak bisa mengandalkan mobil tangki, petugas harus berjalan kaki ke lokasi dan memadamkan api secara manual di tengah medan berbatu dan curam.

Kebakaran tersebut terjadi di petak 117 F yang mencakup wilayah Desa Koripan dan Desa Bekare, Kecamatan Bungkal, Ponorogo. Area yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hektare.

Koordinator Tim TRC-BPBD Ponorogo Hadi Susanto mengatakan kondisi medan menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman. Lokasi kebakaran tidak dapat dijangkau kendaraan water tank.

"Pemadaman secara manual karena memang tidak bisa dijangkau water tank. Jadi kami adakan penyekatan dan pemadaman secara manual bersama teman-teman TNI dan Perhutani," kata Hadi, Kamis (10/9/2026).

Petugas harus menghadapi medan yang terjal dan berbatu. Kondisi tersebut semakin menyulitkan karena pemadaman dilakukan hingga malam hari.

"Medannya memang agak terjal karena bebatuan. Batas tanah desa dengan hutan ini curam sekali sehingga menyebabkan kami agak kesulitan karena medannya terjal dan situasinya malam," ujarnya.

Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Slahung Sudarto menjelaskan kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 10.00 WIB. Titik api ditemukan saat petugas melakukan patroli karhutla.

"Teman-teman kami saat melakukan patroli karhutla melihat titik api. Setelah itu melaporkan ke KRPH, lalu kami teruskan ke Asper dan segera ditindaklanjuti bersama untuk melakukan pemadaman," jelas Sudarto.

Karena sulitnya mendapatkan sumber air, petugas menggunakan cara tradisional untuk menghentikan pergerakan api. Ranting basah digunakan untuk memukul titik-titik api, sementara ilaran dibuat sebagai pembatas agar api tidak meluas.

"Di petak ini untuk sumber air memang kesulitan mencari. Jadi secara manual," katanya.

Hadi menyebut kebakaran terutama mengancam area yang berbatasan dengan lahan warga. Di sekitar lokasi juga terdapat kandang ternak sehingga api harus segera dikendalikan agar tidak menjalar ke pakan ternak.

"Kalau sampai menyulut ke pakan ternak juga akan membahayakan. Hutan ini berbatasan langsung dengan lahan milik warga sehingga kalau ikut terbakar juga membahayakan," ungkap Hadi.

Meski demikian, petugas memastikan kobaran api masih cukup jauh dari permukiman. Hingga kini penyebab kebakaran yang menghanguskan sekitar 5 hektare lahan tersebut masih diselidiki.

"Untuk sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan," pungkas Sudarto.