NADIKABAR.COM — Masyarakat di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), memiliki beragam tradisi sebagai ajang silaturahmi antar warga dan wujud syukur kepada Sang Pencipta. Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah ma'doda yang kerap dihadirkan saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ma'doda merupakan tradisi memasak nasi berbahan beras ketan menggunakan wadah dari bambu. Kuliner dengan cita rasa khas yang dihasilkan dari tradisi ini dikenal dengan nama doda'.
Desa Riso di Kecamatan Tapango adalah salah satu wilayah yang masyarakatnya masih antusias melaksanakan tradisi warisan leluhur ini. Betapa tidak, hampir semua warga di daerah ini melaksanakan tradisi ma'doda setiap perayaan maulid.
Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut bukan sekadar memasak makanan secara bersama-sama. Ma'doda juga menjadi momentum untuk berkumpul, berbagi, dan mempererat hubungan antarwarga.
"Selain untuk memeriahkan peringatan maulid, ma'doda ini merupakan wujud rasa syukur warga kepada sang pencipta dan harapan semoga rezeki kita semakin bertambah," kata Kepala Desa Riso, Onang dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Jumat (4/9/2026).
Doda' merupakan kuliner khas yang terbuat dari beras ketan dicampur santan kelapa dan sedikit garam. Ketiga bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bambu untuk dimasak hingga matang.
Proses pembuatan doda' cukup sederhana. Pertama-tama, bagian dalam bambu sepanjang lebih kurang 60 centimeter diberi lapisan daun pisang. Selain untuk memberi cita rasa khas, lapisan tersebut berfungsi menjaga adonan ketan agar tidak bersentuhan langsung dengan bagian dalam bambu.
Setelah itu, masukkan beras ketan yang telah dibersihkan, kemudian tuangkan santan kelapa yang telah diberi sedikit garam. Hal ini agar ketiga bahan tersebut tidak tumpah, ruas bambu lalu ditutup menggunakan sabut kelapa.
Selanjutnya, ruas bambu dipanggang di atas bara api selama lebih kurang 30 menit. Bambu disusun sedemikian rupa di atas bara dan sesekali diputar agar panas merata. Dari proses inilah beras ketan dan santan perlahan berubah menjadi doda' yang siap disantap.
Meski sekilas proses pembuatan doda' tampak sederhana. Namun, tradisi ini membutuhkan ketelitian, terutama dalam memilih bambu dan mengatur proses pemanggangan agar doda' matang sempurna tanpa membuat bambu terbakar.