Berdasarkan cerita yang didapat Edi dari orang tuanya, Datho merupakan tuan tanah.

"Itu sih katanya tuan tanah. Paling orang terkayalah. Nggak tahu orang dari mana dari mana, kuburannya di sini. Dulu yang ngurusin Haji Romli, Haji Romli itu dia juga nggak kenal (Datho)," jelasnya.

Dia menuturkan saat ini kebanyakan yang berziarah adalah orang tua. Para peziarah datang dari berbagai wilayah.

"Anak muda mah nggak ada, yang ada orang luar kebanyakan. Orang tua, tahlilan kalau malem. Saya inget itu tiga kali tahlilan jam 1 malem. Dari Koang, dari Maja. Motornya di sini nih, saya tanya, 'Bapak dari mana? dari Maja'. Dulu pernah ada orang Bandung bawa mobil, saya tanya orang Bandung katanya," ucapnya.

Meski demikian, beberapa kali dia pernah melihat ada anak muda yang datang untuk tahlilan. Dia menyebut kebanyakan peziarah berasal dari luar Jurumudi.

"Emang pernah ada sih anak muda tahlilan jam 5 sore, cuma saya nggak kenal itu. Anak dari luar kebanyakan. Dulu tukang sate ada juga yang ziarah sampai empat kali," imbuhnya.

Sebagai informasi, Kelurahan Jurumudi di Kota Tangerang memiliki kisah unik di baliknya. Nama Jurumudi bukan diambil dari sosok tokoh ataupun ulama wilayah setempat. Jurumudi ternyata berkaitan dengan kegiatan ziarah hingga pekerjaan yang dulu banyak dilakoni masyarakat di wilayah tersebut, yakni sebagai pengemudi alias sopir.