Ditarik dari konsep Self-Determination Theory, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu rasa kendali (autonomy), rasa mampu (competence), dan rasa terhubung (relatedness). Fenomena duck syndrome berkaitan erat dengan konsep ini. Saat pilihan hidup tidak lagi didasarkan pada keinginan pribadi tapi pada tekanan eksternal, keseimbangan psikologis individu akan rganggu.
Tak hanya itu, budaya untuk selalu terlihat baik-baik saja menjadikan mahasiswa menyembunyikan emosi yang sesungguhnya mereka rasakan. Tidak sedikit mahasiswa berusaha untuk menyembunyikan kelelahan karena takut dianggap lemah.
"Padahal kita ini manusia biasa, punya batas. Tapi karena ingin mempertahankan citra sempurna, akhirnya semua dipendam sendiri," jelasnya.
Anisa melihat keberadaan media sosial turut memberi andil dan memperkuat tekanan ini. Media sosial seringkali menampilkan pencapaian orang lain seperti kemenangan lomba, pengalaman magang, kelulusan cepat, hingga liburan. Hal-hal semacam ini bisa memicu perasaan tertinggal.
"Dalam usaha untuk tidak kalah bersinar, mahasiswa sering kali memaksakan diri untuk terlihat produktif. Ini sesuai dengan Impression Management Theory. Seseorang cenderung mengatur dan mengendalikan citra diri agar terlihat kuat dan mampu, meski di balik layar sesungguhnya ia sedang sangat lelah," ujar Anisa.