Hanya saja, kemudahan penggunaan belum tentu mencerminkan penguasaan teknologi. Tanpa pemahaman mengenai validitas data, keterbatasan algoritma, dan etika penggunaan, AI justru berisiko melemahkan kemampuan berpikir mandiri.
Oleh karena itu, pendidikan AI harus digerakkan agar melampaui pengenalan aplikasi menuju penguasaan kompetensi. Mahasiswa harus memahami bagaimana teknologi bekerja, kapan penggunaannya relevan, bagaimana memverifikasi hasilnya, serta sejauh mana keputusan dapat dibantu oleh mesin tanpa menghilangkan tanggung jawab manusia.
Salah satu kerja sama yang fokus pada tujuan kedaulatan kecerdasan diwujudkan, misalnya oleh Sophia Training and Consulting, i3L University, dan EduMark pada 19 Oktober 2026.
Melalui nota kesepahaman, ketiga institusi sepakat mengintegrasikan materi pembelajaran AI ke dalam pendidikan tinggi, sekaligus memperluas pelatihan bagi mahasiswa dan tenaga profesional.
Sophia merupakan perusahaan konsultan dan pelatihan berbasis di Inggris yang bergerak dalam kecerdasan buatan, manajemen data, strategi digital, dan pendidikan eksekutif.