Sejalan dengan pandangan tersebut, Rabi Kepala Haim Korsia, Rabi Agung Prancis, menekankan pentingnya melampaui kegiatan seremonial dalam membangun perdamaian. Menurutnya, kerja sama tokoh agama dalam proyek kemanusiaan di tingkat lokal dapat membangun fondasi perdamaian yang lebih kuat daripada sekadar perjanjian politik.
Dukungan terhadap pendekatan yang mengedepankan kerukunan juga datang dari delegasi Kristen Ortodoks Timur dan Ekumenis yang menyambut model pluralisme Indonesia. Mereka menunjuk Deklarasi Istiqlal 2024 yang ditandatangani Nasaruddin bersama Paus Fransiskus di Jakarta sebagai contoh bahwa perbedaan teologis tidak harus berujung pada konflik.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen para panelis untuk meneruskan semangat Assisi 1986 melalui langkah nyata dalam diplomasi internasional. Komitmen itu berfokus pada aksi kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan upaya mewujudkan perdamaian dunia secara berkelanjutan.