NADIKABAR.COM — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat peran UNESCO sebagai pilar perdamaian dan kerja sama multilateral, serta jembatan antarbangsa melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan akses informasi.

Fadli menekankan dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari konflik, pengungsian, ketimpangan, krisis iklim, hingga perkembangan teknologi yang pesat.

"Perdamaian yang berkelanjutan tidak dapat hanya bertumpu pada kesepakatan politik. Perdamaian harus dibangun melalui pendidikan yang memperluas kesempatan, ilmu pengetahuan yang mendorong kemajuan umat manusia, kebudayaan yang memperkuat saling pengertian, serta akses terhadap informasi yang memungkinkan masyarakat menjadi lebih tangguh," ujar Fadli dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).

Hal tersebut disampaikannya pada Sidang Dewan Eksekutif UNESCO yang dihadiri 40 negara anggota Dewan Eksekutif serta sejumlah negara observer. Sidang tersebut dibuka oleh Direktur Jenderal UNESCO, Prof. Khaled El-Enany, dan dipimpin oleh Ketua Dewan Eksekutif UNESCO, Dr. Nasser Bin Hamad Al Hinzab dari Qatar.

Pada kesempatan ini, Fadli menyampaikan keprihatinan Indonesia terhadap berbagai konflik yang berdampak pada masyarakat sipil, sekolah, universitas, perpustakaan, warisan budaya, situs keagamaan, jurnalis, pendidik, serta masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Ia mengatakan Indonesia menyerukan kepada seluruh pihak untuk memenuhi kewajiban moral dan hukum serta menyelesaikan sengketa secara damai sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut Fadli, UNESCO perlu terus memperkuat upaya mendokumentasikan kerusakan, melindungi warisan budaya, memastikan keberlanjutan pendidikan, serta menjaga kebebasan berekspresi di masyarakat yang terdampak konflik dan pengungsian.

Keberagaman sebagai Kekuatan Indonesia

Fadli menegaskan representasi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Sebagai negara kepulauan dengan sekitar 290 juta penduduk, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa hidup yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memahami pentingnya menjaga keberagaman sebagai sumber ketahanan dan modal pembangunan berkelanjutan.