NADIKABAR.COM — Asma sering kali dikaitkan dengan kondisi bawaan lahir atau faktor keturunan. Banyak orang merasa aman dari risiko asma hanya karena tidak memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit tersebut.
Namun, paparan abu vulkanik saat gunung berapi erupsi ternyata bisa memutarbalikkan fakta ini. Seseorang yang seumur hidupnya tidak pernah mengidap asma, mendadak bisa mengalami serangan jika terus menerus menghirup abu vulkanik.
Penyebab utamanya ada pada sifat abu vulkanik yang sangat iritatif. Abu ini bukan sekadar debu biasa, melainkan mengandung berbagai jenis mineral, logam, hingga silika yang bertekstur kasar.
Saat terhirup, partikel tajam tersebut melukai dan merusak lapisan pelindung (epitel) di dalam saluran pernapasan. Luka inilah yang membuat ujung-ujung saraf saluran napas menjadi terbuka dan sensitif.
Praktisi kesehatan dari RS Paru Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan, luka epitel ini memicu hipersensitivitas pada saluran napas.