NADIKABAR.COM — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji mengapresiasi peran generasi berencana (Genre) yang aktif terlibat untuk membantu pemulihan trauma atau trauma healing di daerah terdampak bencana.
"Di luar program-program kementerian, mereka paling depan untuk program yang berkenaan dengan remaja, contohnya Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), kalau ada bencana, anak-anak remaja inilah yang paling depan untuk memberikan trauma healing, karena mereka punya pengalaman untuk memberikan beberapa materi tentang trauma healing yang didampingi para psikolog," katanya dalam puncak Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas Genre Nasional (Adujaknas) 2026 di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Selasa.
Wihaji mengemukakan pemilihan Duta Genre telah melalui proses seleksi dan kontestasi yang ketat untuk memilih insan terbaik yang nantinya diharapkan dapat memberi contoh baik dan memberi dampak di masing-masing wilayah seluruh Indonesia.
"Pesertanya ada 68 orang dari 34 provinsi yang ikut, tentu ini bagian yang terus kita lestarikan, tidak hanya kita lomba bicara, lomba pidato, lomba visi dan misi, tetapi prosesnya sudah panjang, kemudian mereka juga punya karya nyata dari masing-masing provinsi yang dipresentasikan kepada dewan juri," ujar dia.
Wihaji menambahkan Genre terus mengampanyekan tiga hal untuk mewujudkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045, yakni no seks bebas, jangan melakukan pernikahan dini, dan jangan terlibat narkoba.
"Tiga isu inilah yang setiap hari mereka di lini lapangan senantiasa kampanyekan, jadi tiga hal yang berkenaan dengan isu-isu generasi berencana," tuturnya.
Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad mengatakan Genre harus bisa menjadi teladan melawan hoaks di dunia digital.
"Kalau dulu nenek moyang kita berperang melawan penjajah, adik-adik, kita sekarang harus bisa berperang melawan hoaks di dunia digital. Adik-adik semua harus belajar dan memahami, cek dulu (kebenaran informasi), jangan mudah terprovokasi dan saling bergunjing," ucap Raffi.
Ia menekankan pentingnya peran teman sebaya dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) bagi teman-teman di sekitarnya, yang tentu lebih nyaman berbagi dan berdiskusi bersama, ketika remaja merasa sulit bercerita kepada orang tua atau keluarganya.
"Di Instagram, Twitter atau media sosial lainnya, jangan provokatif. Kalau ada hal-hal yang tidak berkenan, bercerita lah dan saling berbagi dengan satu sama lain," tutur Raffi.