Menariknya, penggunaan matcha juga tidak berhenti pada tradisi minum teh. Di wilayah Kyoto dan sekitarnya, matcha kemudian digunakan sebagai bahan dalam beberapa jenis makanan. MAFF mencatat bahwa teh Uji tidak hanya diminum, tetapi juga digunakan sebagai bahan dalam makanan dan kudapan.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawa matcha ke bentuk yang dikenal sekarang. Bubuk teh yang dahulu memiliki hubungan erat dengan tradisi dan kebudayaan Jepang kini dapat ditemukan dalam berbagai sajian modern, mulai dari minuman, kue, es krim hingga dessert.
Popularitas matcha saat ini memang membuatnya terlihat seperti tren baru. Padahal, di balik secangkir matcha latte yang diminum di kafe, terdapat sejarah panjang yang menghubungkan Tiongkok, Jepang, tradisi Zen, hingga budaya upacara minum teh. Matcha bukan sekadar minuman berwarna hijau, tetapi bagian dari perjalanan budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Artikel ditulis Mei, Mahasiswi PKL Universitas HKBP Nommensen di NadiKabar.com