NADIKABAR.COM — Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, masyarakat Desa Jungjang Wetan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, masih menjaga satu warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bukan sekadar benda tua yang disimpan dalam ruang penyimpanan; keris, gong, kemung, kayu, tampah, hingga berbagai peninggalan lainnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang desa. Satu per satu benda pusaka itu kemudian dikeluarkan untuk menjalani ritual yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat setempat.
Air membersihkan permukaan benda-benda peninggalan leluhur. Namun bagi masyarakat Jungjang Wetan, makna jamasan jauh melampaui sekadar membersihkan debu atau merawat benda bersejarah.
Ada pesan tentang manusia yang harus sesekali berhenti, menengok perjalanan hidupnya, lalu membersihkan apa yang perlu diperbaiki. Tradisi jamasan pusaka kembali digelar masyarakat Desa Jungjang Wetan sebagai bagian dari ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun. Prosesi tersebut dipusatkan di tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Mbah Buyut Sangkan, tokoh yang dipercaya masyarakat sebagai pendiri Desa Jungjang Wetan.
Sejumlah pusaka peninggalan leluhur dibersihkan dan dirawat dalam prosesi tersebut. Bagi warga, benda-benda itu bukan sekadar peninggalan masa lampau yang memiliki nilai historis, melainkan bagian dari identitas dan perjalanan panjang kehidupan masyarakat desa.
Kepala Desa Jungjang Wetan, Jahuri, mengatakan tradisi jamasan memiliki filosofi yang mendalam. Ritual tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kondisi fisik benda pusaka agar tetap terawat, tetapi juga menjadi momentum introspeksi bagi masyarakat.
Menurutnya, sebuah pusaka, khususnya keris, tidak lahir melalui proses yang sederhana. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran, ketekunan, doa, hingga semangat pantang menyerah dalam proses pembuatannya.