Dengan adanya asap karhutla dan warna Matahari yang memerah, banyak orang yang juga berspekulasi bahwa semakin merah Matahari maka kualitas udara semakin buruk.
Namun, Givo menegaskan warna Matahari tidak bisa secara langsung dijadikan ukuran konsentrasi asap, termasuk juga tingkat pencemaran udara.
"Asap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara," katanya.
Ada banyak faktor lain yang memengaruhi seperti tinggi lapisan asap, kelembapan, awan, sudut Matahari, hingga kondisi angin. Penentuan kualitas udara harus mengacu pada data resmi dari pihak berwenang.
"Jika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi," pungkas Givo.