NADIKABAR.COM — Pernahkah Anda sendirian di kamar, lalu tiba-tiba berbicara sendiri? Entah sekadar mengomentari sesuatu, mengulang percakapan yang baru terjadi, menyusun rencana, atau bahkan memberi semangat kepada diri sendiri.

"Kenapa tadi gue ngomong begitu, ya?"

Jika pernah melakukan hal tersebut, tidak perlu buru-buru menganggapnya aneh. Berbicara kepada diri sendiri atau self-talk merupakan hal yang cukup umum dan dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengatur pikiran, emosi, hingga perilakunya.

Penelitian tentang self-talk menunjukkan bahwa kebiasaan berbicara kepada diri sendiri dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik hanya di dalam pikiran maupun diucapkan secara verbal. Frekuensinya juga berbeda-beda pada setiap orang.

Salah satu alasan seseorang berbicara sendiri adalah untuk membantu mengorganisasi pikirannya.

Ketika sebuah masalah terasa rumit, mengucapkannya dengan suara keras dapat membuat seseorang lebih mudah melihat persoalan secara berurutan. Misalnya, ketika sedang memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikan, seseorang bisa saja berbicara, "Oke, kerjakan yang ini dulu, setelah itu baru yang lainnya."

Dengan begitu, pikiran yang semula terasa berantakan dapat diubah menjadi langkah-langkah yang lebih jelas.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa self-talk dapat digunakan untuk memecahkan masalah, menyusun rencana, meningkatkan fokus, serta membantu seseorang memproses pikiran dan perasaannya.

Membantu fokus saat mengerjakan sesuatu

Berbicara sendiri juga bisa menjadi semacam "panduan" ketika seseorang sedang melakukan pekerjaan tertentu.

Misalnya saat memasak, merakit sesuatu, mencari barang yang hilang, atau mengerjakan tugas. Tanpa sadar, seseorang mungkin mengatakan apa yang sedang dilakukannya, seperti "coba lihat bagian sini" atau "setelah ini pasang yang sebelah kanan."

Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga perhatian agar tetap tertuju pada tugas yang sedang dikerjakan.

Sebuah penelitian terhadap orang dewasa muda juga menemukan bahwa private speech, atau berbicara kepada diri sendiri dengan suara keras, dapat membantu performa pada tugas tertentu yang melibatkan memori kerja visual-spasial.

Bicara sendiri tidak selalu berisi keluhan atau komentar tentang aktivitas sehari-hari. Kadang, seseorang justru sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Contohnya ketika menghadapi wawancara kerja, presentasi, ujian atau situasi yang membuat gugup.

Kalimat sederhana seperti itu merupakan bentuk self-talk yang dapat membantu seseorang mengatur respons emosionalnya.

Cleveland Clinic menyebut self-talk dapat digunakan untuk membantu mengurangi stres, meningkatkan fokus dan membangun motivasi.

Menariknya, cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri juga dapat berpengaruh. Penelitian menunjukkan bahwa menggunakan nama sendiri atau kata ganti orang ketiga ketika berbicara kepada diri sendiri dapat menciptakan jarak psikologis tertentu dan membantu seseorang menghadapi situasi yang menimbulkan stres.

Ada alasan yang lebih sederhana, yakni karena tidak ada orang lain yang diajak berbicara.

Ketika seseorang menghabiskan banyak waktu sendirian, self-talk dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi dengan diri sendiri. Penelitian mengenai frekuensi self-talk menemukan adanya hubungan antara pengalaman isolasi sosial dan kecenderungan lebih sering berbicara kepada diri sendiri.

Namun, hal tersebut tidak otomatis berarti seseorang kesepian atau memiliki masalah psikologis.

Orang yang sedang sendirian bisa saja berbicara sendiri karena sedang berpikir, mengingat sesuatu, menyusun rencana atau sekadar merespons situasi di sekitarnya.

Bahkan bisa membantu mengambil keputusan

Pernah mengalami situasi ketika harus memilih sesuatu lalu mengatakan pilihan tersebut dengan suara keras?

Misalnya, "Kalau ambil yang ini, nanti waktunya lebih hemat. Tapi kalau yang itu, harganya lebih murah."

Dengan mengucapkan pertimbangan secara verbal, seseorang dapat mendengar kembali pikirannya sendiri. Hal ini bisa membuat berbagai pilihan terasa lebih konkret dan membantu proses pengambilan keputusan.

Dalam kajian mengenai self-talk, berbicara kepada diri sendiri memang dikaitkan dengan berbagai fungsi, termasuk pengaturan perilaku, evaluasi diri, pengelolaan diri dan penilaian terhadap situasi sosial.

Meski bicara sendiri pada dasarnya merupakan hal yang umum, konteksnya tetap penting.

Berbicara sendiri karena sedang berpikir atau sengaja memberi instruksi kepada diri sendiri berbeda dengan mendengar suara yang terasa berasal dari sumber lain dan tidak dapat dikendalikan.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa self-talk normal biasanya disertai kesadaran bahwa seseorang sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Jika seseorang merasa mendengar suara dari sumber lain atau mengalami halusinasi, kondisi tersebut sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan mental.

Begitu pula jika percakapan kepada diri sendiri terus-menerus bernada sangat negatif hingga mengganggu aktivitas sehari-hari atau kondisi emosional. Self-talk negatif yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak terhadap kesejahteraan mental.

Jadi, kalau sesekali sedang sendirian lalu tiba-tiba ngomong sendiri, sebenarnya tidak perlu panik atau merasa ada yang salah. Bisa jadi otak sedang melakukan hal yang cukup sederhana: menyusun pikiran, mengatur emosi, memecahkan masalah atau sekadar menemani diri sendiri.

Yang penting bukan semata-mata apakah seseorang berbicara sendiri, melainkan apa yang terjadi dalam percakapan tersebut dan apakah kebiasaan itu mengganggu kehidupan sehari-hari.