NADIKABAR.COM — Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah. Para kandidat terpilih ini berdedikasi dalam melestarikan berbagai kebudayaan dan kesenian Indonesia hingga dikenal dunia.
DPD RI menjelaskan bahwa penghargaan untuk kategori ini akan diberikan kepada individu yang melestarikan hingga mempromosikan budaya daerah.
"Diberikan kepada individu yang memiliki inovasi dalam pengembangan dan pelestarian budaya daerah serta berperan aktif dalam mempromosikan budaya daerah di tingkat nasional maupun internasional," tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat NadiKabar, Rabu (19/8/2026).
Berikut nama-nama 10 kandidat Pelestari Budaya Daerah DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:
Alfonsa Raga Horeng merupakan pelestari, penggerak dan pendiri Sentra Tenun Lepo Lorun, yang memberdayakan kaum perempuan untuk menjaga warisan budaya tenun ikat tradisional di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gagasan utamanya bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi perempuan.
Alfonsa melakukan budidaya bahan baku, seperti kapas dan tumbuhan penghasil warna alam, untuk produksi tenun dan berbagai layanan produk serta jasa edukasi wisata. Dia mengedukasi keterampilan tenun lewat pelatihan teknik menenun, pewarnaan alami, dan pemeliharaan kualitas kain.
Selain itu, mengedukasi mengenai makna filosofis setiap motif sehingga penenun mampu menceritakan nilai budaya produknya. Alfonsa juga melakukan pelatihan desain agar produk tradisional dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar tanpa menghilangkan identitas budaya.
Alfonsa juga membentuk kelompok usaha perempuan agar produksi dan pemasaran tenun lebih terorganisasi. Kemudian mengintegrasikan tenun dengan pariwisata budaya.
Anitawati merupakan pegiat budaya dan penggagas revitalisasi Tenun Tidore (Puta Dino Kayangan) yang sempat hilang lebih dari 100 tahun. Berbekal riset arsip sejarah, penelusuran jejak penenun dan temuan alat tenun kuno, Anitawati merekonstruksi teknik, motif, dan filosofi tenun sebagai identitas budaya Kesultanan Tidore.
Melalui pelatihan menenun, pendampingan usaha, serta pemberdayaan perempuan, pemuda, pelajar dan warga binaan rutan, Anitawati tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi berbasis industri kreatif.
Anitawati mengembangkan motif-motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands, menjadikan tenun sebagai media edukasi sejarah dan diplomasi budaya. Dia juga membawa tenun Tidore tampil di berbagai ajang internasional, antara lain Indonesia New York Fashion Week (2022), Kyoto (2023), Cape Town (2023), Paris (2024), dan Rabat (2024), serta berhasil menembus pasar ekspor melalui outlet di Hamburg, Jerman.
Cletus Beru merupakan pelopor dan pelestari budaya di Desa Umauta hingga menjadi desa wisata di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mengembangkan model wisata budaya berbasis masyarakat adat, mengedepankan gotong royong, dan mendorong wisata berkelanjutan.
Cletus Beru menghubungkan budaya dengan ekonomi kreatif desa. Dia juga aktif memperjuangkan akses dan perhatian pemerintah terhadap desa wisata budaya di Kabupaten Sikka.
Berkat dedikasinya, Cletus Beru membawa Desa Umauta masuk 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, dan 50 Besar ADWI 2022.
Endang Dzunuraini merupakan pendiri Sanggar Mbah Guru, pusat komunitas pelestarian batik yang memberdayakan perempuan pedesaan dan seniman lokal di Lamongan, Jawa Timur. Melalui Sanggar Mbah Guru, para pengrajin batik desa di Lamongan berhasil kembali dihidupkan setelah sempat punah.
Endang membuka wisata edukasi belajar membatik lengkap hingga kunjungan ke kebun pewarna alam. Sanggar Mbah Guru memiliki kebun budidaya berisi sekitar 100 jenis tanaman mengandung tanin pewarna alam sebagai laboratorium hidup sekaligus kebun pewarna alam percontohan yang terintegrasi dengan eco edu culture tourism. Sanggar Mbah Guru memproduksi batik dengan menggunakan pewarna alami dari tanaman yang bisa diregenerasi dan juga berinovasi mengolah limbah pertanian menjadi pewarna alami batik.
Lewat Sanggar Mbah Guru, Endang memberdayakan kaum perempuan desa hingga mengurangi pernikahan dini, KDRT dan perceraian karena masalah ekonomi.
Juwandi merupakan penggerak yang menjadikan Desa Budaya Bukit Batu sebagai pusat pelestarian budaya Melayu di Kabupaten Bengkalis, Riau. Dia merangkum anak-anak muda untuk menjaga dan mengembangkan budaya Melayu di Bengkalis.
Berbagai tradisi, seni, dan sejarah lokal dihidupkan melalui kolaborasi Pentahelix: Festival Budaya Bukit Batu, Festival Sungai Bukit Batu, pengembangan Kampung Tenun, pertunjukan seni Melayu, diskusi sejarah, membentuk sanggar serta pelibatan masyarakat dan generasi muda.
Gerakan ini juga menjadikan budaya sebagai sumber kebanggaan, kreativitas, pendidikan, pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bahkan Tenun Bukit Batu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022 oleh Kementerian Kebudayaan.
Desa Budaya Bukit Batu berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat provinsi dan nasional serta memperoleh dukungan dana dari Kementerian Kebudayaan secara berturut-turut (2024-2026). Jejaring budaya dan akademik yang dibangun mulai menjangkau Jepang (2023-2026).
Leni Febrianti merupakan penggagas dan pemegang hak cipta Batik Kagano untuk menghadirkan identitas budaya Bengkulu Utara, yang bersumber dari kekayaan alam dan karakter daerah. Batik Kagano diluncurkan pada tahun 2019.
Batik Kagano lahir dari gagasan untuk menghadirkan identitas budaya Bengkulu Utara dan dikembangkan dengan mengangkat Kacamata Enggano dan Rafflesia Kemumu sebagai inspirasi utama motif. Batik Kagano mengubah kekayaan lokal menjadi identitas visual yang dapat dikenali, digunakan, dan diwariskan.
Batik Kagano juga digunakan sebagai seragam resmi pemerintah dan sekolah di wilayah Bengkulu Utara, sehingga identitas budaya tidak hanya dipamerkan dalam kegiatan seremonial, tapi menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Kontribusi Batik Kagano tidak berhenti pada penciptaan motif, identitas menjadi fondasi bagi pengembangan ekosistem pelestarian budaya melalui pelatihan perajin, desa binaan, pendidikan, pemberdayaan kelompok masyarakat, pengembangan UMKM, hingga pengenalan budaya ke tingkat internasional.
Sejak tahun 2002, Maulana Muhammad Syuhada aktif melestarikan dan mempromosikan angklung di berbagai belahan dunia. Dia mendirikan berbagai grup angklung dan kesenian tradisional di antaranya Angklung Hamburg Orchestra (2002), Sabilulungan (2003), Lancaster High School Angklung Orchestra (2006), Lancaster University Angklung Orchestra (2007), Angklung Manchester (2009).
Kemudian pada tahun 2015, Maulana mendirikan Tim Muhibah Angklung (TMA) dan sudah melakukan 6 kali misi budaya ke Eropa (2016, 2018, 2022), Australia (2018, 2025), USA (2022) dan Timur Tengah (2024). Dalam 10 tahun terakhir, TMA sudah berpartisipasi dalam berbagai festival internasional di berbagai negara seperti Skotlandia, Belgia, Republik Ceko, Polandia, Bulgaria, Turki, Bosnia-Herzegovina, Amerika Serikat, Portugal, Spanyol dan Australia.
Maulana juga melakukan "Flash Mob Angklung" di berbagai landmark dunia seperti Port of Hamburg (2016); Queen Street Mall, Brisbane (2018); Basilica, Budapest (2018); Times Square, New York (2022); Mushrif Mall, Abu Dhabi (2024); Australian Museum, Sydney (2025).
Pada tahun 2007, membuat buku "40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia menaklukkan daratan Eropa", buku tentang perjalanan Tim Expand The Sound of Angklung ke tujuh negara Eropa tahun 2004. Tahun 2016, mengangkat perjalanan TMA ke Eropa dalam sebuah film dokumenter berjudul "The Journey: Angklung Goes To Europe", film dokumenter layar lebar pertama tentang angklung.
Maulana mendirikan Angklung Centre, sebuah platform online yang bertujuan untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat akan angklung, baik di dalam maupun luar negeri. Angklung Centre juga berfungsi sebagai pusat pengetahuan tentang angklung, pusat database angklung, pusat informasi dan kegiatan angklung, pusat penjualan dan distribusi angklung.
Mugiyono Kasido merupakan maestro seniman tari, baik sebagai penari maupun koreografer tari yang dipentaskan di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Mugiono menelurkan sejumlah karya seni tari yang fenomenal.
Pertama karya "Mencari Mata Candi" pada 2003, yang menggabungkan vokabuler gerak tarian Siwa dalam panel relief Candi Prambanan dengan tari topeng Jawa, wayang dan gerakan tari modern. Karya ini dipentaskan di Kunsten Festival des Arts, Brussels, Belgia; Lincoln Center Festival, New York USA; Gothenburg Festival, Swedia; dan Centre National de la Danse, Perancis.
Kedua "Kabar Kabur", karya yang membiaskan batas tari, teater, dan pantomim. Hanya dengan kostum berupa kaos dan celana pendek warna putih, Mugiyono mengungkapkan kejadian kekacauan informasi atau hoax pasca kerusuhan 1998. Sejak tahun 2000-2024, karya ini dipentaskan 138 kali di 25 negara, 5 benua.
Ketiga "Bima Suci" tahun 2011, karya yang dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah. Mugiyono menari dan mengkoreografi selama 36 jam 36 menit 36 detik nonstop dengan live musik gamelan tradisional dan kontemporer.
Keempat "Bagaspati", karya yang memadukan tari topeng Jawa tunggal dengan gerak sufi memutar. Karya ini dipentaskan 30 kali di 11 negara Eropa, Asia, USA sejak tahun 2001 hingga 2011.
Kelima karya "Kosong", yang menggunakan gamelan sebagai musik dan sekaligus properti menari. Karya ini telah dipentaskan 13 kali di lima negara pada tahun 1995-1996.
Muhammad Ridwan Alimuddin merupakan peneliti independen yang berdedikasi dalam merevitalisasi kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq. Dia juga Duta Baca Sulawesi Barat dan pendiri Komunitas Bahari Mandar sejak 2006.
Ridwan menginisiasi dan bertindak sebagai kurator program Student on Sandeq (SOS) yang dilaksanakan sejak 2022 sampai 2026, wadah edukatif yang mendekatkan generasi muda pada teknik pembuatan hingga pelayaran perahu tradisional.
Dia aktif terlibat dalam pelaksanaan festival Sandeq Race untuk merawat marwah dan eksistensi pelaut lokal secara berkelanjutan sejak 2001. Dia juga terlibat dalam pelayaran rekonstruksi historis seperti ekspedisi Padewakang ke Australia (2019-2020) serta mendirikan muse
Poltak Tambunan merupakan sastrawan nasional pendiri komunitas sastra etnik Tortor Sangombas. Dia membina para penulis sastra modern dalam bahasa daerah.
Pembentukan Tortor Sangombas bertujuan untuk penyelamatan, pelestarian, dan pengembangan penulisan sastra modern berbahasa Batak.Poltak juga membuat sejumlah karya sastra modern dalam bahasa Batak.
Berkat dedikasinya itu, Poltak Tambunan menjadi inspirasi munculnya sastrawan dalam berbagai bahasa daerah. Dia juga mendapat sejumlah penghargaan mulai dari Batak Center hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.