NADIKABAR.COM — Dokumen hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian keracunan MBG yang dialami ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, viral di media sosial baru-baru ini.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sumatra Utara (Labkesda Sumut), Pulo, dalam pernyataan kepada wartawan membenarkan temuan tersebut. Menurutnya, pemeriksaan dilakukan atas permintaan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.
"Bakteri yang kami temukan itu, ya, ada beberapa jenis yaitu Staphylococcus aureus, kemudian juga Bacillus cereus, dan juga Escherichia coli," ujar Pulo Rabu (9/9/2026).
Ketiga bakteri tersebut dikenal dapat menyebabkan penyakit akibat pangan dengan mekanisme dan gejala yang berbeda. Ada bakteri yang menghasilkan toksin di dalam makanan, sementara jenis lainnya dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan.
Lantas, seperti apa ketiga bakteri tersebut dan bagaimana bisa menyebabkan keracunan?
Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang secara alami dapat ditemukan pada kulit dan tangan. Keberadaannya pada tubuh tidak selalu menyebabkan penyakit.
Masalah dapat muncul ketika bakteri tersebut berpindah ke makanan. Tangan yang tidak dicuci dengan baik dan kontak langsung dengan makanan dapat menjadi jalur kontaminasi.
Bakteri ini menjadi perhatian dalam keamanan pangan karena dapat menghasilkan enterotoksin. Toksin tersebut terbentuk ketika bakteri berkembang biak dalam makanan pada kondisi penyimpanan yang mendukung pertumbuhannya.
Bahaya lain dari S. aureus adalah enterotoksin yang dihasilkannya memiliki ketahanan terhadap panas. Proses pemasakan dapat membunuh bakterinya, tetapi toksin yang sudah terbentuk sebelumnya tidak selalu ikut hilang.
Keracunan akibat S. aureus juga memiliki karakteristik yang cukup khas karena gejalanya dapat muncul dengan sangat cepat. Keluhan biasanya mulai dirasakan sekitar 30 menit hingga 8 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Gejalanya dapat berupa mual, muntah hebat, kram perut, dan diare. Keluhan umumnya berlangsung singkat, tetapi muntah dan diare tetap dapat menyebabkan kehilangan cairan.